Minggu, 14 Agustus 2011

MTQ, antara Tuntunan dan Tontonan

Oleh : Mustapa Umar


Mushabaqah Tilawatil Qur’an di beberapa keluarahan Kota Bima sudah rampung, sementara para juara menunggu untuk kembali bertanding ditingkat Kecamatan. Untuk Kabupaten Bima, bahkan sudah melangsungkan MTQ tingkat Kabupaten sendiri, yang beberapa hari yang lalu dibuka di Kecamatan Wera. Semangat religius Bima patut saya acungkan jempol, dibanding daerah-daerah lain di NTB khususnya dalam melangsungkan MTQ.
Sejauh pengamatan saya disetiap pembukaan dan penutupan, baik di wilayah kerja saya selaku penyuluh (Kecamatan Mpunda), ataupun membaca beberapa informasi tentang MTQ di luar wilayah kerja saya lewat media-media cetak. Dalam setiap kesempatan, wakil walikota bahkan terkadang Camat memberikan sambutan dan sembari mempromosikan tentang gerakan Bima Berzakat, Maghrib Mengaji. Panitia dalam laporan biaya pelaksanaan, tidak tanggung-tanggung menyebut angka bahkan sampai 30-an juta rupiah.
Selain biaya, panitia terkesan “menonjolkan” kemewahan panggung MTQ masing-masing. Namun tanpa kita sadari, atau bahkan mungkin sudah kita sadari namun kita diam saja, seolah-olah tidak menjadi masalah, bahwa peserta yang ikut jauh dari jumlah prosentase kepala keluarga yang ada. Yang ironis malah, pesertanya adalah kiriman kelurahan lain. Belum lagi masalah “pemerataan” juara setiap RT dan RW, bahkan pemotongan biaya atau hadiah yang sangat tidak sesuai dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Masalah-masalah ini secara tidak langsung sudah mencederai hakekat dan tujuan MTQ itu sendiri.
Setiap sambutan, wakil walikota selalu menekankan agar anak-anak kita, masyarakat kita berjiwa Qur’ani. Kita sepakat, bahwa jiwa-jiwa Qur’ani adalah jiwa, prilaku, dan tindakan yang berlandaskan Al-Qur’anul Karim. Dalam al-Qur’an sudah jelas, bagaimana batas aurat, batas pergaulan lain jenis dan batas bagaimana kita menghormati al-Qur’an itu sendiri, termasuk menghormati kesucian Masjid.
Ada beberapa MTQ yang dihelat dipelataran Masjid, kalau kita melihat wanita-wanita yang mengisi acara, tanpa kita sadari ada yang sedang haid (datang bulan), dan dengan leluasa mereka naik kemasjid dengan sandal-sandal / sepatu yang bagus, yang mengakibatkan kenakjisan (hukmiah) pada lantai masjid. Masalah aurat, para penontonnya wanitanya cukup menggunakan celana pendek, ketat dan memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh yang gemulai. Belum lagi tidak jauh dari panggung MTQ, mereka asyik berduaan dengan “pacar” masing-masing yang berlum tentu syah dan masih haram bagi mereka.
Hal-hal seperti ini, saya temukan banyak disetiap pelaksanaan MTQ. Seperti berbanding terbalik dengan hakekak dan makna serta tujuan dilangsungkannya MTQ itu sendiri, yakni untuk mengangunggkan syiar-syiar Islam, kemuliaan Firman Allah SWT yang dilantunkan para Qori’ dan Qori’ah. Seharusnya semangat mereka patut kita dukung dengan lingkungan yang Qur’ani juga. Namun kalau keadaannya seperti ini, maka belum membuahkan hasil syiar yang tepat, hanya seleksi dan menghabis-habiskan dana saja.
Mari kita berpikir ulang, tentang konsep dan manajemen dalam setiap pelaksanaan MTQ yang kita gelar, agar disamping kita mencari penerus-penerus agama yang mencintai al-Qur’an juga masyarakat yang memuliakan kandungan-kandungan al-Qur’an. Beberapa media cetak, memberitakan tentang adanya penyakit-penyakit masayarakat yang semakin meluas, dari siswi SMP yang merokok sampai semak belukar “mesum” disekitar paruga naE yang di desak masyarakat untuk di razia. Belum masalah penggunaan narkoba, sofi, dextro, minuman keras, sampai free sex yang mengakibatkan aborsi dimana-mana. Kos-kosan yang terkesan bebas, tanpa mengindahkan peraturan yang ada, Tamu Harus Lapor 1x24 pada RT atau RW setempat.
Hal-hal inilah sebenarnya yang perlua kita carikan perimbangan dengan nuansa-nuansa yang kita bina selama ini. Agar MTQ yang kita selenggarakan setiap tahun benar-benar sebuah tuntunan bukan sekedar tontonan, apalagi semakin tahun peminat dan peserta MTQ setiap keluarahan semakin menurun dan kualitas masih dalam tanda tanya. Mari kita jadikan Bima kembali harum pada masa Ustadz Ramli Ahmad, Bima menjadi daerah Qur’ani  dan Madani.InsyaAllah. Wassalam.

Penyuluh Agama Islam KUA. Kec. Mpunda Kemenag Kota Bima.

Mewujudkan Kerinduan Syurga


Oleh : Mustapa Umar

Mungkin kalau kita tanya sebagian besar yang melakukan ibadah, atau bentuk penghambaan apapun kepada Allah SWT adalah ingin mendapatkan syurga nanti di alam akhirat setelah kita mendiami alam dunia ini. Walaupun beribadah karena mengharapkan pahala (syurga) atau karena takut dosa (neraka) adalah tidak boeh. Yang kita tekankan sebenarnya adalah hanya ikhlas semata-mata karena Allah SWT dan mengharap keridhaan-Nya saja. Namun lain halnya dengan masalah yang satu ini, bahwa kitalah yang dirindukan oleh Syurga Allah. Dan seperti apakah mereka yang dirindukan itu?
Coba kita lihat satu hadits Rasulullah SAW, “bahwa syurga merindukan empat orang; pertama taalil al-qur’an (senang membaca al-Qur’an). Kedua, wahifdzillisan (menjaga lidahnya). Ketiga, waath’imul jia’an (memberi makan orang yang sedang kelaparan) dan keempat shiyamuramadhan (orang yang puasa di bulan ramadhan).”    
Dari keterangan hadits ini, nampaknya semua itu bisa kita lakukan dan kerjakan pada bulan ini, bersamaan  dengan kita melaksanakan ibadah puasa. Mari kita coba lihat;
Pertama, orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah sumber dari segala hukum yang ada, yang kita jalani dalam penghambaan kita kepada Allah SWT. Mulai cara bersyahadat (tauhid), shalat, zakat, dan puasa ini termasuk hajji nantinya, adalah bersumber dari al-Qur’an. Nyata memang, ahli-ahli syurga adalah mereka-mereka yang bisa menjalankan perintah Allah dengan baik, benar dan sempurna. Dan perintah-perintah Allah ini, dapat kita ketahui setelah kita bisa “membaca (teks atau konteks)” al-Qur’an.
Dan saat ini, entah apakah karena al-Qur’an diturunkan di bulan ramadhan ataukah hanya untuk mendulang lebih banyak kebaikan yang kita akan dapatkan di bulan ini tujuan mereka membaca al-Qur’an? tapi kenyataannya memang al-Qur’an lebih banyak di baca hanya di bulan ramadhan dibanding bulan-bulan yang lain. Al-Qur’an dibaca dari mulai terbenam matahari sampai terbit fajar, bahkan dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ada yang membaca di rumah, di musholla, di perjalanan-perjalanan lebih-lebih di Masjid. Sehingga kesempatan untuk dirindukan syurga dari hal pertama ini, sangat terbuka lebar.
Kedua, mejaga lidah.
Lidah memang tak bertulang. Ungkapan ini sangat sering kita dengar, karena terkadang ucapan kita tanpa dirasa dan terasa bisa melukai perasaan sesama kita. Dan bisanya seseorang menjaga lidahnya adalah sebagai bukti manusia itu baik dengan sesame atau sebaliknya. Oleh karena itu, keselamatan seseorang terletak pada ucapannya (lidahnya). Sering terjadi pertengkaran bahkan pertempuran hanya berawal dari ucapan lidah yang kurang terkontrol fikiran.
Memang puasa adalah menahan diri dari segala makan dan minum, dan melakukan hubungan suami istri di siang hari serta berkata-kata yang jelek atau kotor (fitnah, bohong, ghibah, namimah, menghasud, mencela, menghina dll. Karena apabila kita melakukan ini semua, maka puasa kita dari segi “ganjaran” akan hilang. Artinya kita hanya puasa, mendapat haus dan laparnya saja. Ingat! Batal ada dua, batal puasa dan batal pahala puasa. Nah posisi lidah di bulan puasa ramadhan ini sangat penting. Karena bisa merusak pahala puasa orang yang mengerjakannya. Dan menjaga lidah lebih sulit dari sekedar menjaga hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Namun bagi anda yang bisa menjaga lidahnya maka akan selamat pahala puasanya, peluang untuk dirindukan syurgapun terbuka jika kita bisa menahan ucapan dan menjaga lidah (ucapan) kita selama menjalankan puasa dan di luar bulan puasa ini tentunya.
Ketiga, pemberi makan orang yang kelaparan.
Demia Allah! Dia akan membalas hamba-hamba-Nya yang pandai berterimakasih (syukur) dan Dia akan membalas sekecil apapun kebaikan kita kepada orang lain. Bila kita memberi minum kepada saudara kita yang kehausan maka Allah akan memberi kita minum pada hari kiamat nanti disaat orang-orang sedang dilanda dahaga, Bila kita memberi makan kepada saudara kita yang sedang kelaparan, niscaya Allah akan memberi kita makan di saat orang-orang kelaparan pada hari akhir nanti, Bila kita memberi pakaian kepada saudara kita didunia ini, niscaya Allah akan memberi kita pakaian yang indah disaat orang-orang telanjang pada hari perhitungan nanti, bila kita memudahkan urusan saudara kita yang sedang kesulitan dan dihimpit permasalahan, yakinlah bahwa Allah akan memudahkan urusan kita sejak didunia ini. Pertolongan Allah akan datang kepada seorang hamba manakala sang hamba menolong saudaranya.
Pertolongan yang berpotensi untuk kita kerjakan di bulan ramadan ini adalah memberikan mereka orang-orang yang “kelaparan” puasa dengan berbuka atau mereka-mereka yang memang benar-benar “kelaparan” dalam artian fakir miskin, anak yatim tetangga kita. Nanti pada akhir ramadhan, satu kewaiban yang akan kita lakukan, yakni membayar zakat fitrah 2,5 % dan ini bagian dari member orang-orang kelaparan. Mereka-mereka para mustahik (penerima zakat) mempunyai hak atas harta kita. Dan oleh karena itu, Allah memerintahkan Wajib Zakat untuk membersihkan harta-harta kita, dan memberikan kepada mereka-mereka yang berhak menerimanya. Dua-duanya adalah peluang yang bisa kita raih untuk dirindukan syurga yang bisa kita lakukan di bulan penuh pertolongan ini.
Keempat, Orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan.
Sedang kita jalankan dan Alhamdulillah sudah memasuki fase (bagian) ke dua dari pembagian bulan ramadhan. Mulai tanggal 11 sampai dengan 20 ramadhan, adalah fase maghfiroh (pengampunan) Allah SWT. Dan semoga fase ini adalah buah dari fase awal kemarin (rahmat) yang sudah kita lalui mulai tanggal 1 sampai dengan 10 ramadhan. Dan untuk memperoleh itkumminannaar (bebas dari api neraka) pada fase terakhir tanggal 21 sampai dengan 30 ramadhan nanti. fase-fase ini adalah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sehingga harus menjalankannya dengan benar diawal sampai akhirnya.  Ibarat sebuah perlombaan, kita harus mulai dari garis start untuk menuju finish. Dan tidak mungkin untuk masuk mulai tengah untuk menuju garis finish.
Dan seperti yang saya tulis di atas, peluang-peluang dirindukan syurga itu tersimpul dalam yang keempat ini, dan insyaAllah kalau kita konsisten (istiqamah) melakukannya, maka semuanya kita akan peroleh dan syurga menunggu kita. Semua hal ini harus berdasarkan keyakinan (iman) yang kuat. Bukankah syarat orang berpuasa, dan mendapat tujuan akhir, yakni taqwa adalah beriman. Sesuai dengan perintah Allah tentang pusa pada surat al-baqarah ayat 183 tersebut.
Dari itu mari kita bisa melakukan keempat hal-hal yang dirindukan syurga ini. Walaupun salah satu kita tekuni juga termasuk bagian dari pada orang-orang yang dirindukan syurga. Namun alangkah sempurnanya kalau keempatnya bisa kita kerjakan bersamaan di bulan ini. Amin ya rabbal ‘aalamin.


Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kota Bima

Puasa, adalah Peningkatan Kualitas Iman


Oleh : Mustapa Umar

Dalil puasa, yang sering kit abaca dan dengarkan dalam setiap ceramah-ceramah agama, tulisan-tulisa ramdahan adalah surat Al-Baqarah ayat 183. Allah berfirman, “wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kamu untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu, agar kamu bertaqwa”. Dan selajutnya diikuti oleh ayat-ayat yang lain, yang semuanya berkaitan dengan perintah puasa ini. Dari posisi turunnya kita sudah faham kalau ayat ini termasuk bagian dari ayat-ayat Madaniyah atau ayat-ayat yang diturunkan di Madinah.  Ayat ini menggunakan awal, “yaa ayyuhalladzi na aamanu”  (wahai orang-orang yang beriman). Dan beda dengan ayat-ayat Makiyah yang dimulai dari “yaa ayyuhannas” (wahai manusia).
Ibadah apapun yang kita kerjakan, hendaknya lebih kualitasnya dari pada kuantitasnya. Boleh saja kita hanya shalat lima waktu, zakat, dan puasa namun apapbila diterima semua oleh Allah SWT maka hasilnya sama dengan mereka ummat-ummat terdahulu yang notabenenya berumur panjang-panjang dan bisa melakukan ibadah kepada Allah SWT panjang pula. Dan inilah keistimewaan ummat Nabi Muhammad SAW dengan ummat-ummat yang lain. Kuantitas umur dan ibadah tidak mempengaruhi kualitas nilai ibadah yang kita kerjakan. Dan tulisan saya ini, mencoba melihat beberapa kandungan maksud dari kata-kata “aamanu” (beriman) yang implikasinya adalah sifat takqwa menjadi meningkat kepada Allah SWT. Adapun beberapa makna yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah ;
1.      Ayat ini menggunakan “aamanu” hanya cirri-ciri ayat-ayat Madinah saja, karena diturunkan di kota Madinah. Kota yang didiami oleh Rasulullah dengan cara hijarah bersama para sahabat saat itu. Dan di Madinah keimanan ummat islam pada waktu itu berbeda dengan Makkah. Artinya, masyarakat Madinah saat itu sudah sebagian besar beriman, sehingga perintah puasa turun di Madinah di saat umat islam sudah beriman.
2.      “aamanu” dalam ayat ini adalah merupakan prasyarat (syarat awal) bagi mereka yang hendak melakukan puasa. Kalau mereka tidak beriman maka jelas, mereka tidak bisa mengerjakan puasa dalam bulan Ramadhan ini. Karena dengan imanlah yang akan menuntun kita bagaimana cara mengerjakan puasa yang benar dan puasa yang diterima oleh Allah SWT.
3.      Bisa juga, “aamanu” dalam dalil puasa ini berarti seleksi atas keimanan masing-masing ummat islam di dunia ini. Ibarat sebuah perlombaan, digaris start banyak kita yang mengikuti, namun sampai garis finis hanya beberapa orang saja yang bisa menyelesaikannya dengan baik. Boleh dikata hasil adalah manfaat dalam melakukan puasa yakni Taqwa. Namun sebenarnya Iman dan Taqwa adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Orang berimanlah yang akan mendapatkan Taqwa itu dan hanya orang-orang yang berimanlah yang mampu menyelesaikan puasanya dengan baik.
Dengan kita menjalankan puasa, berarti kita beriman dan akan mendapatkan taqwa? Ini pun jawabannya belum tentu, kenapa? Karena kita harus melihat posisi iman dan taqwa itu sebenarnya dimana? Di mana posisi iman dan taqwa  yang menjadi tujuan kita menjalankan puasa ini sebenarnya? Dalam sebuah riwayat hadits, pernah diceritakan para sahabat mempertanyakan kepada Rasululullah tentang Iman dan Taqwa. Karena para sahabat heran, kenapa dalam setiap khotbah, tausiyah dan pidato-pidato Nabi, mesti diawali dengan kata-kata tingkatkan iman dan taqwa selalu.
Para sahabat saat itu bertanya, “ya Rosulullah, hamba perhatikan setiap khotbah Rosul selalu mengingatkan kami untuk selalu beriman dan bertaqwa,  apakah kami belum dikatakan beriman dan bertaqwa? Padahal kami sudah imani dan yakini Allah SWT adalah Tuhan dan Rosulullah adalah junjungan kami?. Dan Rosulullah menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya menunjuk dada beliau, “saya tidak tahu, karena iman dan taqwa itu, hanya d isni (haa hunaa), telunjuk rasulullah lurus ke dada sebelah kiri, yakni posisi hati. 
Berawal dari hal inilah, maka puasa benar-benar ibadah yang rahasia. Karena ibadah ini hanya berurusan dengan hati masing-masing kita. Sebuah pribahasa sering kita dengarkan, “sedalam-dalamnya lautan dapat kita ukur, namun sedalam-dalamnya hati siapa yang tahu”. Hati adalah segumpal darah yang menentukan bentuk tingkah laku manusia. Dari hati akan dikomunikasikan dengan akal, lalu dijalankan dengan indra-indra yang lain, bisa mata, hidung, telinga, mulut, tangan dan kaki. Maka Rosulullah SAW sangat berpesan untuk bisa menjaga hati.
Dalam kitab sulamuttaufiq dikatakan setiap manusia melakukan dosa kepada Allah SWT, maka akan diberikan satu titik hitam dihatinya. Maka jika sering melakukan dosa, semakin banyak titik-titik hitam di dalam hatinya, dan jika hati sudah dipenuhi dengan titik-titik hitam, maka menjadi hitamlah hati manusia yang semula berwarna merah kecklatan. Dan kalau sudah hati menjadi hitam, sejak itupula manusia menjadi keras, sulit diarahkan karena hatinya sudah tidak bisa menerima kebaikan yang ada.  Apapun nasehat yang diberikan tentang nasehat agama dan kebaikan, mereka seolah-olah acuh tak acuh saja. Dan merasa bangga dengan dosa-dosa yang mereka perbuat di dunia ini. Na’udzubillahimindzaalik semoga kita terhindar.
Taqwa yang kita harapkan, sebenarnya rinkas saja yakni menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Hatilah yang akan memilah mana yang harus diberikan porsi kepada nafsu dan mana yang diberikan porsi kepada akal fikiran. Jika nafsu lebih besar porsinya dan dia mengalahkan akal, maka jelas manusia bisa menjadi binatang, dan bahkan lebih dari itu kata Allah SWT. Tapi jika akal yang lebih besar mendapatkan porsi maka selamatlah manusia itu. Kerena akallah menjadi pembeda antara manusia dan binatang.
Setelah puasa, kita bisa ukur sendiri apakah kita menjadi lebih takut melakukan dosa, dan gemar melakukan kebaikan apa tidak? Jika gemar melakukan dosa, maka insyaallah imbas puasa tidak ada. Sebaliknya, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di dalam puasa ini, kita tingkatkan setelah puasa malah semakin bertambah, insyaallah taqwa itu kita dapatkan. Oleh karena itu, mari ibadah puasa yang kita lakukan saat ini, hendaknya mampu membersihkan titik-titik hitam itu, dan Allah SWT memberikan kita pengampunan serta menjadikan kita orang-orang yang bertaqwa. Amin ya Robbal ‘aalamin.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kemenag Kota Bima.


Setelah Rahmat, Berburu Maghfiroh


Oleh : Mustapa Umar

Bismillahirrahmanirrahiim
Tiada pujian yang paling sempurna dan mulia hanyalah kepada Allah SWT. Dialah penggenggam kehidupan dan kematian setiap makhluk. Yang memberi kasih sayang tanpa pamrih dan tanpa tendensi apa-apa. Dia lah yang menjamin rezeki yang cukup kadarnya, usia yang tak akan berkurang atau bertambah sesuai waktunya, dan jodoh yang tak akan tertukar pasangannya. Subhanallah. Saudaraku saat ini kita sudah memasuki hari ke-11 Ramadhan, dan kita tentunya masih mengisinya dengan kesibukan-kesibukan yang mengngiat-Nya.
Dalam sebuah riwayat, satu bulan Ramadhan terbagi menjadi tiga (3) fase atau bagian. Mulai tanggal 1 sampai dengan 10 Ramadhan, adalah disebut fase awal dan merupakan fase Rahmat (belas kasih) Allah SWT.  Tanggal 11 sampai dengan 20 Ramadhan, adalah disebut fase pertengahan yakni fase maghfiroh (pengampunan) Allah SWT. Sedangkan fase Itkumminaannaar (bebas dari api neraka) adalah fase terakhir yakni mulai tanggal 21 sampai dengan 30 Ramadhan. Nah fase-fase atau bagian ini merupakan paket atau satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan beruntut atau beraturan. Artinya untuk 10 hari yang sudah kita lewati hendaknya sudah kita kantungi namanya Rahmat Allah SWT.
Rahmat itu sendiri, kalau dilihat dari kamus besar bahasa Indonesia dikatakan bahwa Rahmat adalah karunia atau belas kasih atau kasih sayang (rahim) dari Allah SWT. Sedngkan di dalam tafsir Ibnu Katsir mengenai basmallah, dijelaskan mengenai dua sifat Allah, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Dari 99 nama Allah, yang menjadi istimewa adalah munculnya dua nama ini dalam Ummul Qur’an dan juga awal dari Al-Quran. Dijelaskan mengenai Ar-Rahman dan Ar-Rahiim diambil dari satu kata yakni Ar-Rahmah. Tapi keduanya memiliki makna khusus yang berbeda. Seorang ulama mengatakan bahwa Ar-Rahman merupakan nama yang bersifat umum meliputi segala macam bentuk rahmat, dan nama ini dikhususkan hanya bagi Allah SWT semata. Sedangkan Ar-Rahiim merupakan kasih sayang yang diberikan Allah SWT hanya bagi orang-orang yang beriman.
Jadi dari penafsiran di atas, wajar apabila mereka-mereka yang non-muslim mendapat rahmat dari Allah SWT, begitu juga dengan makhluk selain  manusia dan jin. Terkadang kita sedikit heran, kenapa mereka orang yang kafir lebih “berada” makmur dan sejahtera dalam kacamata manusia disbanding sebagian orang-orang muslim. Inilah yang dikatakan keridhoan Allah SWT atau kerelaan-Nya tidak bisa kita andai-andai. Sedangkan untuk manusia yang beriman mereka akan mendapat namanya rahiim (belas sayang) dari Allah SWT. Begitu istimewanya orang-orang beriman, mereka selain mendapat rahmat juga mendapatkan rahiimnya Allah SWT. Dan menjalankan Ibadah Puasa, seperti yang tertera dalam surat Al-Baqarah ayat 183 tersebut hanya untuk mereka orang-orang yang beriman saja yang sanggup melakukan ibadah ini.
Dalam suatu hadist dikatakan: “Sesungguhnya Allah memiliki 100 (seratus) rahmat, di antaranya 1 (satu) rahmat yang dengannya setiap makhluk saling menyayangi, dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anaknya, dan ada rahmat lainnya sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan) yang akan diberikan nanti di hari kiamat.” (HR. Muslim. MasyaAllah begitu besar rahmat Allah SWT yang akan kita terima. Ada 99 rahmat yang menunggu kita, orang-orang yang beriman, yang menjalankan ibadah puasa. Bila dibandingkan dengan rahmat dunia bagi mereka makhluk Allah SWT yang kafir hanya diberikan 1 (satu) saja saat ini.
Dalam ayat 6 surat Hud juga dikatakan “Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat kediamannya itu dan tempat penyimpanannya . Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” Para ulama menafsirkan ayat ini bahwa satu rahmat yang Allah turunkan, adalah Rahmat Allah berupa karunia dan rezeki bagi seluruh makhluk yang bernyawa di dunia. Mulai dari binatang, tumbuhan, dan seluruh manusia mulai dari manusia pertama hingga akhir zaman nanti. Allah SWT tidak memandang status makhluknya, hewan buas atau jinak kah, tanaman liar atau hias kah, manusia mukmin atau kafirkah, Allah akan mencukupkan rezekinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Betapa Maha Rahman dan Rahiimnya Allah SWT kepada makhluknya. Tapi apakah kita hanya ingin mendapatkan 1 Rahmat Allah saja? Artinya kita hanya memburu yang di dunia ini saja? Jangan! Jangan sampai berfikir cukup yang satu itu saja, karena janji Allah SWT sesuai hadits di atas nanti bagi yang beriman (yang menjalankan ibadah puasa) akan diberikan 99 rahmat lagi di hari kiamat. Sehingga Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kepada kita untuk memohon kepada Allah, untuk selalu mengharap Rahmat dari-Nya. Bahkan dalam suatu kisah, meskipun amalan kebaikan kita selama seribu tahun ditimbang dibandingkan dengan nikmat satu buah bola mata, ternyata masih lebih berat karunia bola mata. Mohonlah selalu Rahmat-Nya.
Dan Ramadhan tanggal 1 sampai dengan 10 kemarin, kita sudah melewati fase Rahmat itu, mudah-mudahan kita telah mengantonginya dan selanjutnya akan berburu fase ke dua yakni fase Maghfiroh (pengampunan) Allah SWT. Namun apabila kita tidak mampu untuk meraih sempurna rahmat tadi, maka jangan berharap fase maghfiroh kita dapatkan, dan selanjutnya fase terakhir nanti adalah fase itkumminannar (bebas dari api neraka). Sebab hal ini seperti yang saya tulis di atas, adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. N
Nah mudah-mudahan fase kedua ini, kita sukses menjalankannya dan menambah kecintaan kita kepada bulan puasa ini sehingga menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Penuh pengharapan kepada Allah, hanya mengharap ridhonya (kerelaannya) saja, bukan karena takut Neraka atau ingin masuk Syurga saja. Tidak hanya amalan wajib harus kita perbuat dan lakukan tapi juga amalan-amalan sunnah yang harus kita galakkan juga, karena bulan ini amalan sunnah diganjar dengan kebaikan amalan wajib. Sedangkan amalan wajib sendiri diganjar berkali-kali lipat, dan pahal shaum nya dibalas dengan balasan yang hanya Allah yang mengetahuinya (unlimited).

Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kota Kemenag Bima.

Ramadhan Puasa Membentuk Pribadi Saleh Sosial


Oleh ; Mustapa Umar, S. Ag., M.Pd.I.

Kenapa Ibadah puasa dikatakan ibadah yang paling rahasia diantara ibadah-ibadah yang lain?  Tulisan ini mencoba mengulasnya. Puasa memang ibadah yanag paling rahasia dianara ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah SWT sendiri, menjamin hal itu dengan firman-Nya, “Puasa adalah untukku dan hanya Aku yang akan membalasnya”. Memang kalau dilihat dengan “kaca mata” manusia, diantara lima rukun Islam yang lain, puasalah ibadah yang tidak satupun kita bias menilai seseorang tersebut sedang berpuasa apa tidak. Hanya kemantapan iman sajalah yang bisa mengantarkan kita untuk benar-benar puasa apa tidak.
Maka Maha benar Allah, yang di dalam dalil tentang puasa, surat Al-Baqarah ayat 183 menjelaskan, bahwa hanya orang-orang yang beriman saja yang bisa menjalankan puasa dengan benar dan sesui ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam puasa itu sendiri. Iman terutama kepada yang gaib, sesuai firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 3 adalah ujian terbesar bagi kita untuk bisa melaksanakan ibadah puasa ini, tanpa tendensi apa-apa semata-mata karena Allah SWT. Dan tujuan kita dipuasakan oleh Allah sesuai dengan ayat 183 surat Al-Baqarah itu adalah, “moga-moga” menjadi orang yang bertaqwa. Artinya tidak semua orang yang berpuasa akan lulus/keluar setelah berpuasa akan tambah taqwa, tapi hanya sebagian orang saja yang akan merasakan nikmatnya ketaqwaan.
Karena landasan iman itulah, kita menjalankan puasa tidak dengan rasa paksaan atau beban berat yang ditimpakan kepada kita. Melainkan menjalankan ibadah, kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah SWT. Kita meyakini adanya Allah dan meyakini pula apa-apa yang dilarang dan diperintahkan oleh-Nya. Maka tidak ada alas an bagi kita untuk tidak melaksanakan puasa, walaupun andai kita tidak puasa, dan pura-pura meludah, tidak makan di depan orang, dan selalu orang akan menganggap kita puasa. Namun jauh dari hal itu, Allah SWT selalu memantau kita, karena Dia adalah Maha melihat, Maha mengetahui dan Maha mendengar apa-apa yang kita lakukan di dunia ini.
Dan ibadah puasa juga adalah ibadah yang berhubungan selain dengan Allah juga dengan manusia, artinya vertical dan horizontal menyatu menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hubungan dengan Allah SWT (hablum min al-Allah) melalui keyakinan tadi untuk meraih ketaqwaan dan hubungan dengan manusia (hablum min an-nas). Bisa berintraksi dengan Allah dan harus bisa berintraksi dengan manusia dalam kesehariannya. Maka kalau satu yang lepas jelas ibadah puasa kita jauh dari tujuannya. Dalam puasa ada hal-hal yang membatalkan puasa dan juga membataalkan pahala puasa. Yang membatalkan puasa lebih kepada hubungan kita dengan Allah SWT dan yang membatalkan pahala puasa lebih kepada hubungan kita dengan Manusia atau sesame hamba.
Maka wajar bila saya katakana, bahwa puasa lebih kepada membina jiwa-jiwa menjadi lebih sosial. Pengendalian hawa nafsu yang condoh bersifat keduniaan adalah tujuan kita dipuasakan oleh Allah SWT.  Nafsu terkadang sulit dikendalikan, dan sering mempengaruhi akal fikiran manusia. Dari nafsu yang di punyai manusia, nafsu marah yang paling sulit kita kendalikan. Oleh karena itu di dalam puasa ini, hendaknya nafsu-nafsu keduniaan kita lebih bisa terkontrol untuk menjadikan kita lebih baik nantina. Bukankah rasulullah Muhammad SAW menganggap puasa adalah menghadapi perang yang besar? Yaitu perang dengan hawa nafsu sendiri.
 Lalu bagaimana bisa puasa akan membentuk pribadi kita menjadi lebih sosial? Puasa, bisa membentuk pribadi yang melaksanakannya menjadi lebih sosial dari sebelumnya. Karena kita puasa, adalah merasakan bagaimana saudara-saudara kita yang terkadang makannya hanya istilah “senin dan kamis” jauh lebih beruntung dibandingkan kita saat ini yang mampu. Kita oleh Allah SWT hanya di larang makan pada saat terbit fajar hingga terbenam matahari saja, dan malamnya kita bisa berbuka dan makan sahur dengan lahapnya. Namun mereka yang hidup serba kekurangan terkadang malampun tidak bisa menikmati hidangan / makanan apa-apa.
Ibadah puasa juga bisa dikatakan adalah sarana dalam merenungi nasib sesama kita yang tidak mampu. Hal yang kita rasakan saat ini, menghindari makan, minum, berhubungan dengan istri/suami, dan tidk melakukan sifat-sifat tercela lain yang akan membatalkan pahala puasa kita, adalah ikut merasakan seperti yang mereka rasakan. Puasa juga bisa kita katakana sebagai sarana pengentasan kemiskinan yang sangat memprihatinkan bangsa kita saat ini. Kalau kita lihat, beberapa sanksi atau hukuman dalam puasa, rata-rata lebih kepada mensejahterakan orang-orang yang tidak mampu.
Salah satu contoh, jika kita merusak puasa dengan berhubungan intim suami dan istri pada siang hari atau saat berpuasa, maka Allah SWT memberikan alternative sanksi, pertama memerdekakan hamba sahaya, kedua member makan 60 fakir miskin dan yang ketiga berpuasa berturut-turut selama dua bulan. Namun di sini Allah lebih mengutamakan yang nomer satu dan dua. Namun nomer satu, sudah tidak ada hamba sahaya dan tinggal memberi  makan 60 fakir miskin.
Sanksi memberikan makan 60 fakir miskin artinya kita sebenarnya oleh Allah SWT berpeluang untuk mengentaskan kemiskinan. Mereka yang hidup dalam garis kemiskinan akan terentas apabila orang-orang yang puasa ini, selalu bersedekah tidak hanya saat puasa saja, namun di luar bulan puasa nantinya diharapkan pemberian sedekah, zakat, infaq harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Karena puasa ibarat kita latihan, maka setelah puasa tentunya kita lebih bisa, lebih mahir, lebih baik dari sebelumnya. Kalau di bulan puasa kita melakukan sedekah kepada 5 atau 10 orang miskin, maka di luar bulan puasa harusnya 15 sampai 20 orang miskin, itu baru namanya peningkatan.
Dalam ayat lain, surat Al-Baqarah ayat 114 misalnya, Allah berfirman, "Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". Dua masalah ini menunjukkan bahwa betapa puasa menjadikan pelaksananya sosial jika mengetahui atau menjalankan puasa itu dengan benar dan sesuai tuntutan yang ada.
Untuk mereka yang mampu dalam hal nafkah / harta namun mereka tidak mampu menjalankan puasa karena sesuatu halangan, misalnya karena umur dan penyakit, maka hendaknya mereka mengganti dengan fidyah. Fidyah adalah memberi  makan orang miskin, di sini juga betapa kita menjadi lebih sosial jika mampu memberi makan orang miskin selama 30 hari kita tidak bisa menjalankan ibadah puasa, maka 30 orang miskin yang bisa kita berikan makanan. Dan hal seperti ini jarang bahkan tidak pernah kita lakukan di luar bulan puasa.
Belum lagi saat berbuka, betapa banyak ragam dan macam makanan yang tersedia dihadapan kita, namun tentu tidak semua yang kita siapkan untuk berbuka kita makan semuanya. Artinya kita makan sesuatu yang kita butuhkan saja. Jika perut kita sudah kenyang maka hanya itu saja yang kita butuhkan.  Di luar bulan puasa, rasanya kita tidak pernah merasa kenyang, banyak makanan yang kita makan selalu merasa kurang dan kurang. Andai amalan ini kita teruskan di luar bulan puasa, maka tidak ada orang yang rakus hanya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya samapai yang lain tidak kebagian.
Inilah diantara beberapa hikmah kenpa Allah SWT memerintahkan kita untuk berpuasa, agar kita lebih beriman kepada Allah. Karena iman inilah yang akan mengantarkan kita untuk menjadi Taqwa. Dan orang taqwa adalah yang memahami nasib dan keadaan saudara-saudaranya. Di dalam harta yang mereka punya ada hak orang lain, maka kalau itu kita pahami insyaAllah tidak ada yang korupsi, tidak ada yang serakah dan rakus dengan apa yang mereka punya saat ini. Selalu ada waktu dan bagian dari harta-harta mereka untuk berbagi kepada sesame yang lebih membutuhkan dari kita.

Penulis, Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kemenag Kota Bima

Cinta Agama, Wajib Zakat dan Cinta Negara, Taat Pajak

Oleh : Mustapa Umar

Bulan ramadhan sudah memasuki fase (bagian) ke dua, dari pembagian fase sebulan Ramadhan.  Fase ke dua ini dikatakan fase Maghfiroh (pengampunan) mulai tanggal 11 sampai dengan 20 Ramadhan. Namun fase ini kita bisa sempurna jika telah mengantungi fase pertama (tanggal 1 sampai dengan 10 Ramadhan kemarin), yakni fase Rahmat (belas sayang) Allah SWT.  Karena antara masing-masing fase adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, selagi kita masih diberikan kemampuan dan iman untuk menjalankan ibadah sekali setahun ini, hendaknya totalitas menjalankannya. Termasuk salah satu kewajibab kita, untuk membersihkan harta-harta kita, dan memberikah hak orang lain pada kekayaan kita yakni berzakat. Di samping berzakat sendiri adalah ciri seseorang Islam dalam menjalankan ke-islam-annya dengan sempurna. Diantara sekian ayat-ayat al-Qur’an ada 82 ayat yang berbicara mengenai zakat dalam arti sempit dan shadaqah dalam arti yang lebih luas.
Selama ini, banyak orang hanya memahami zakat sekedar  zakat fitrah saja. Mereka setelah menjalani ibadah puasa, cukup membayar 2,5 Kg. beras saja, mereka menganggap sudah lunas tanggung jawab mereka tentang kewajiban zakat. Dalam pelaksanaannya pun, masih kita melihat orang-orang yang masuk golongan wajib zakat, sesuai dengan ayat al-Qur’an dalam surat  at-Taubah ayat 60 tersebut. Yakni orang-orang fakir dan miskin masih memberikan zakat fitrah yang mereka terima, kepada tetangga atau amil zakat yang lain. Yang seharusnya mereka tidak wajib membayarkannya karena mereka adalah wajib menerima saja.
Dalam ketentuan wajib zakat misalnya, sesuai intruksi Menteri Agama RI nomor 5 tahun 1991, terdapat ada lima pembagian zakat. Diantaranya, jenis  tumbuh-tumbuhan, Emas dan Perak, Perusahaan, Perdagangan dan Jasa, Binatang Ternak, Tambang dan Harta terpendam serta Zakat Fitrah.  Lalu ada istiah zakat profesi masuk kemana? Dalam instruksi ini, zakat profesi masuk ke bagian tiga, yakni zakat Perusahaan, Perdagangan dan Jasa. Khusus mengenai zakat profesi, memang masih banyak yang berdebat, itulah uniknya orang-orang islam, kalau tidak ada perdebatan dan perbedaan tidak syah dan kurang ramai. 
Zakat profesi, muncul dari beberapa literature seperti karangan, Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqor, Dr. Muhammad Nu’aim Yasin dkk dalam Abhats Fiqhiyyah fi Qodhoya Zakat Al-Mu’ashirhoh atau masalah Zakat Gaji karangan Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Al-Ajwibah As-Sa’diyyah ‘anil Masail Kuwaitiyyah. Selain dari itu, hukum islam berkembang sesuai perkembangan zaman, misalnya dalam fiqih-fiqih kontemporer. Bukankah hukum kita tidak hanya al-Qur’an dan al-Hadits saja? Ada Ijma’, ada Qiyas dan dalam konsep ushul fiqh selain itu, juga maslahah-murshalah yakni mengambil manfaatnya dari pada mudharatnya. Mungkin hal ini bisa kita pakai, bahwa manfaatnya jauh lebih berarti dari pada mudharatnya. Adakah mudharatnya jika kita membayar zakat profesi? Saya kira tidak ada, mungkin mudharat bagi orang-orang yang enggan membayar zakat saja, karena dengan membayar zakat, harta mereka menjadi berkurang.
Lalu bagaimana dengan pajak? Pajak adalah menyangkut kewajiban warga negara terhadap negara yang menjadi institusi publik yang ditentukan dan diberi wewenang untuk mengelola kepentingan negara atau kepentingan publik. Pemungutan pajak harus mendapatkan persetujuan rakyat melalui UU yang harus disetujui parlemen atau DPR. Karena setiap pungutan pajak yang tidak didasarkan UU maka batal demi hukum dan rakyat tidak wajibmematuhinya. Dan untuk pajak yang ditetapkan UU maka pemerintah atau negara memiliki hak paksa untuk menagihnya melalui aparat negara yang berwenang.
Inilah perbedaan dengan pengeluaran lain seperti, pengeluaran berupa hibah, pemberian bantuan, sumbangan dan warisan, khusus zakat atas penghasilan di Indonesia sesuai UU No. 36 tahun 2008 (BN No. 7723 hal. 15B-26B dst) sudah boleh dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak atau bisa dianggap sebagai biaya. Tetapi harus ada syaratnya. Zakat atas penghasilan yang dapat dikurangkan (dianggap sebagai biaya) tersebut harus nyata-nyata dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemelukagama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang secara resmi sudah diakui, diakreditasi pemerintah dalam hal ini Kementerian  Agama atau lembaga-lembaga/badan amil yang lain.
Dalam UU Nomor 36 Tahun 2008, Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b dijelaskan bahwa zakat dapat dikurangkan dari penghasilan yaitu "zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah". Besarnya zakat yang dapat dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak adalah sebesar 2,5% (dua setengah persen) dari jumlah penghasilan. Pemotongan zakatnya adalah sebelum penghasilan dihitung dengan tarif progressif. Atau dengan kata lain, zakat dikenakan pada penghasilan bruto. Selanjutnya, bisakah zakat bisa menjadi bukan sekedar diakui sebagai biaya tetapi menjadi bagian dari pembayaran pajak? Dengan keluarnya UU No 38 pengelolaan zakat tahun 1999 (BN No. 6408 hal. 11B-143) dan UU Pajak Penghasilan ini maka jalan menuju pengakuan itu semakin melebar dan bisa saja suatu saat nanti.
Mungkin perlu kita belajar di negeri tetangga, di Malaysia. Dengan perlakuan zakat sebagai bagian dari setoran pajak ternyata jumlah penerimaan pajak meningkat dan penerimaan zakat juga. Fakta ini merupakan bukti bahwa ketentuan agama Islam itu adalah rahmatan lil alamiin (untuk sekalian alam), yang kadang tidak mengikuti rasionalitas manusia yang terbatas. Ini lah perbedaan antara zakat dan pajak, dua istilah yang berbeda dari segi sumber atau dasar pemungutannya, namun sama dalam hal sifatnya sebagai upaya mengambil atau memungut kekayaan dari masyarakat untuk kepentingan sosial, zakat untuk kepentingan yang diatur agama atau Allah SWT sedangkan Pajak digunakan untuk kepentingan yang diatur Negara melalui proses demokrasi yang sah.
Pajak lahir melalui konsep Negara dan Zakat lahir dari konsep agama. Dari itu apabila penerimaan zakat lebih besar dari pajak maka menimbulkan negara akan bangkrut dan negara Islam akan lahir. Suatu hasil angan angan yang tidak memercayai kebesaran dan kekayaan Tuhan atau ketakutan kepada Islam yang sesungguhnya damai itu. Ingat! 
Zakat terbatas kepada kepentingan golongan tertentu seperti, 7 kelompok yang mustahik, dan merupakan bukti penghambaan hamba kepada sang khalik-Nya. Sedangkan Pajak dapat digunakan untuk semua kebutuhan dalam kaitannya dengan pengelolaan keuangan negara, termasuk yang tidak sesuai dengan tuntunan agama asal mendapat persetujuan DPR, begitupun pemungutannya kepada semua warga Negara, tidak hanya umat islam saja. Jadi kita harus bisa memilih mana kewajiban agama dan Allah juga mana ketaatan kita terhadap Negara untuk kesejahteraan dan kemakmuran kita bersama. Wallahu’alam.

Penulis adalah Penuyul Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kota Bima

Disiplin, Sipdilin, Plinsidi, Lindisip..akh! Susah Sekali.


Oleh : Mustapa Umar

Koran ini sabtu (6/8) menyorot tentang Disiplin Pegawai Pemprov NTB yang kian merosot. Masalah disiplin memang seperti tidak habis-habisnya dibicarakan, diupayakan, dan diusahakan untuk ditingkatkan. Dalam setiap arahan pimpinan upacara selalu titik tekannya kepada disiplin. Sampai dibeberapa kota dan instansi saat ini menerapkan absen sidik jari, hanya untuk mendisiplinkan orang-orang yang tidak disiplin. Pertanyaan kita kenapa disiplin itu sulit dan harus mulai dari mana? Mudah-mudahan tulisan saya ini, bisa menjadi spirit kita bersama hususnya saya pribadi. Saya tentu tidak menggarami lautan, namun kewajiban untuk saling nasehat-menasehati antar sesama mungkin bisa menjadi alas an tulisan saya ini.
Masalah disiplin tidak terlepas masalah dengan waktu. Bagaimana kita memanfaatkan dan memaknai waktu itu sendiri. Seberapa kualitas waktu yang kita punya atau hanya kita buang begitu saja. Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai dasar pedoman kita beragama dan menjalankan kehidupan ini, juga berbicara tentang waktu, berbicara tentang disiplin. Sudah sepantasnya kita sebagai pemeluk yang ta’at tentu melirik kembali ajaran-ajaran yang digariskan Allah SWT dan Rasulullah kita tersebut, agar kita tidak dikatakan orang-orang yang lupa akan ajaran agamanya. Karena kehidupan apapun yang kita lakukan di atas dunia ini, tentu tidak lepas dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Berbicara soal waktu dan disiplin, Allah SWT bersumpah dengan waktu, dalam firman-Nya dapat kita lihat dalam surat Al-‘Ashr ayat 1-3. “Demi masa (waktu), Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya tetap dalam kesabaran. Dalam penegakan waktu (disiplin) sesuai ayat ini, sangat dibutuhkan juga adanya keimanan, nasehat-menasehati, mentaati kebenaran dan tetap dalam kesabaran pada setiap orang. Ayat ini juga berbicara tentang mereka-mereka yang tiak peduli dengan waktunya, maka akan merasakan kerugian sendiri dalam hidup. Dan lebih tragis lagi, apabila tidak menghargai waktu yang diberikan termasuk bagian dari orang-orang yang tidak beriman. Karena Allah SWT membuat pengecualian yakni orang-orang beriman saja yang bisa menghargai setiap detik waktunya.
Melihat sisi surat Al-‘Ashr ini, mungkin kita akan lebih fokus kepada Sholat. Andaipun kita melihat ansih sholat saja, sholat juga didikan disiplin secara tidak langsung kepada kita. Waktu kita untuk melakukan sholat, sudah ada dengan sendirinya dan tartib. Dimana Rasulullah SAW sendiri memerintahkan kita untuk sholat diawal waktu dalam setiap waktu shalat datang. Begitupun dengan ibadah-ibadah yang lain, sudah ada waktunya sendiri-sendiri dan harus tepat waktu, teratur, tertib dalam menjalankannya.

Namun tentu ayat tersebut tidak berbicara hanya tentang waktu shalat saja, bukankah shalat juga menggambarkan kehidupan kita sehari-hari? Tujuan shalat adalah mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar, artinya mereka yang shalatnya benar maka inysaAllah tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan keji dan munkar, termasuk mengkorupsi waktu dan tidak menghargai waktu yang diberikan adalah bagian dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar terhadap Allah SWT.
Lebih dari itu, sumpah Allah ini tentu sangat mendasar dan harus kita imani sebagai seorang hamba yang taat menjalankan agama dan keyakinan kita. Sebab waktu tidak bisa ditarik kembali jika itu sudah berlalu dan  meninggalkan kita. Berawal dari waktu inilah segala keputusan dan tindakan kita dimulai. Apabila kita telat sedikit maka itu menjadi penyesalan berkepanjangan. Bukankah banyak orang bilang kesempatan itu tidak datang dua kali? Atau orang arab bilang “al-waktu kasshaifh”(waktu adalah pedang), maka akan memenggal kita sendiri kalau kita melewatinya tanpa manfaat. Dan orang baratpun mengatakan “the time is money” (waktu adalah uang), artinya begitu berharganya waktu bagi mereka, sehingga tiap detik harus bermakna dan bermanfaat untuk kehidupan mereka.
Lalu bagaimana pandangan hadits tentang waktu? Dalam Haditsnya Nabi Muhammad SAW pun berbicara tentang waktu. “barang siapa yang hari ini lebih baik dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Sedangkan kalau hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang tidak beruntung. Dan orang yang apabila hari ini lebih buruk dengan hari kemarin, maka orang itu termasuk orang yang merugi dalam hidupnya”. Dalam hadits ini, Rasulullah tentu menginginkan ummatnya harus menjadi orang-orang yang beruntung, yakni orang-orang yang tiap harinya ada peningkatan kualitas hidup mereka. Dan penghargaan waktu disini adalah disiplin yang dilakukan ummatnya yang disukai oleh Nabi.
PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah jabatan yang didapat dengan susah payah. Abdi Negara dengan beberapa ketentuan yang mereka harus patuhi dan taati dan tandatangani saat mereka disumpah jabatan. PNS adalah hasil seleksi ketat dari sekian ratus bahkan ribu orang, saudara-saudara kita yang kurang beruntung untuk lolos menjadi PNS, dan begitu kita lolos / lulus lalu harusnya tidak mengecewakan Negara yang telah meloloskan kita, dan tidak mengecewakan mereka saudara-saudara kita yang kebetulan tidak beruntung saat itu.
Rutinitas kehidupan dan pekerjaan kita setiap hari tentu bisa kita jadual sebenarnya, dan mana pekerjaan yang menjadi pokok (prioritas) dan pekerjaan yang sampingan tentu juga bisa kita bedakan. Termasuk tugas sebagai PNS (abdi negara), hendaknya apa yang kita jadikan sumpah saat pelantikan, tentunya menjadi pemicu kita untuk lebih disiplin. PNS adalah abdi Negara atau pelayan pemerintah dan masyarakat, dari segala kebutuhan jasa dan pelayanan yang mereka butuhkan. Dari jabatan masing-masing sudah ada ketentuan kerjaan, gaji, tunjangan, fasilitas dan jam yang harus mereka penuhi dan perhatikan setiap harinya.
Sehingga bagi mereka-mereka saudara saya yang kebetulan kurang disiplin, kalau lebih extrim saya katakana, bahwa tidak disiplin sama artinya koruptor atau penghianat atas sumpah jabatan dan merujuk ke Al-Qur’an surat Al-‘Ashr tadi adalah tidak beriman. Korupsi karena kita mengurangi jam / waktu yang seharusnya kita bekerja namun kita tidak bekerja tanpa alasan apapun, tanpa ijin pimpinan dan sebagainya sesuai ketentuan-ketentuan yang berlaku dan sudah diatur dalam tata kepegawaian Negara. Oleh karena itu apabila kita tidak disiplin, atau telat masuk kantor, maka berapa urusan yang terbengkalai atau orang-orang yang kebetulan membutuhkan kita segera namun kita tidak ditempat. Kembalilah kepada PANCA PRASETYA KOPRI yang kita hafalkan bersama dan harusnya kita renungi dan laksanakan dalam setiap kehidupan ke-pegawai-an kita.
Percayalah bahwa tidak ada kerugian apa-apa jika kita sepakat untuk disiplin. Malah kita akan merasakan ketentraman dan keteraturan dalam setiap kehidupan yang kita lewati. Mulailah dari diri kita sendiri, dari kehidupan rutinitas dirumah. Baik itu yang berkaitan dengan masayarakat maupun dengan Allah SWT. Apabila kita sudah bisa mendisiplinkan diri, melalui undangan rapat yang diberikan RT mislanya sampai kepada disiplin waktu shalat, maka insyaAllah untuk waktu-waktu dan urusan-urusan yang lain kita bisa lebih disiplin dari sebelumnya.
Niatkan bahwa kerja apapun adalah ibadah, walaupun berbentuk dunia namun tujuannya adalah akhirat karena sebagai bekal kita ibadah. Harta yang kita cari, bukan semata-mata untuk dunia saja, namun jauh dari itu yakni tujuan akhir dari kehidupan kita. Lebih-lebih di bulan yang penuh berkah dan mulia ini. Tentunya kita akan hiasi dengan pekerjaan-pekerjaan yang mulia dan berkah termasuk disiplin tadi. Negara sangat mengharagai kita, melalui berbagai fasilitas yang diberikan dan disiapkan, oleh karena itu, saatnya kita pertanyakan “apa yang kita berikan untuk negara?” ini adalah kewajiban setiap abdi negara. Bukan hanya hak saja yang kita tuntut, “apa yang negara berikan kepada kita?”.

Penulis, Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kemenag Kota Bima.