Kamis, 16 Februari 2012

Ruang Cinta Kasih dalam Islam


Oleh : Musthofa Umar

Tulisan saya kali ini, hanya ingin meluruskan anggapan sebagian saudara-saudara kita tentang cinta dan kasih sayang. Momentum februari sering remaja kita hususnya remaja muslim, memaknai bulan ini atau tanggal 14 dengan hari kasih sayang (valentin). Entah karena memang mereka sekedar ikut-ikutan atau sekedar image saja. Namun yang jelas, harus ada yang memberitahu mereka tentang valentin dan bagaimana seharusnya Islam memandang sebuah hubungan muda-mudi pra nikah. Sabda Rasulullah SAW tentang ramalan beliau diakhir zaman terbukti, bahwa ummat Islam akan mengikuti kaum Yahudi dan Nasrani bagaikan sepasang sandal yang satu dan lainnya. Bahkan andai mereka (Yahudi dan Nasrani) menikahi ibunya sendiri, ummat Islam akan mengikutinya. Propaganda barat sangat luar biasa, terutama fashion dan mode life style muda-mudi sekarang. Dalam Al-qur’an juga sudah mewanti-wanti kita, bahwa mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak akan rela sampai ummat Islam mengikuti mereka sedikit demi sedikit.

Wikipedia menulis, banyak versi tentang Valentine’s Day. Yang paling mendekati adalah peristiwa abad ke 14 dalam pernaskahan British Library di London bahwa zaman itu lazim orang untuk bertukar catatan pada hari itu (14 Februari) dan memanggil pasangan mereka dengan menyebut Valentine. Valentine sendiri berasal dari Santo Valentinus yang akan gugur sebagai Martir (orang suci dalam ajaran Katolik), ia menulis sebuah pernyataan cintaa kecil yang diberikannya pada sipir penjaranya yang tertulis, “Dari Valentinusmu”. Ketika serdadi Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, Santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Dalam tradisi Katolik saja hari ini tidak dianggap sebagai hari penting. Dan buakan sebuah toleransi beragama, adalah kalau kita ikut-ikutan memeriahkannya. Seperti saya pernah tulis beberapa waktu lalu, Islam sebenarnya mempunyai hari kasih sayang sendiri, yakni hari dimana Nabi Adam dan Siti Hawa dipertemukan Allah SWT, dalam satu riwayat setelah seratus tahun berpisah. Pertemuan mereka berdua, oleh Allah SWT dijadikan inti pelaksanaan ibadah haji saat ini. Dan tempat pertemuan mereka berdua, diberikan sebuah tugu selanjutnya tempat itu dikenal dengan nama Jabal Rahmah (Gunung Kasih Sayang). Hari bersejarah itu, lambat laun dikenal dengan istilah hari Arafah, yang diperingati setiap tanggal 9 Zulhijjah.

Dan bukankah Allah SWT adalah seorang yang Maha Pengasih dan Penyayang? Bismillahirrahmaniraahim adalah ucapan dan do’a yang penuh dengan kasih dan sayang. Ini seharusnya yang digembar-gemborkan oleh ummat Islam, bukan kepunyaan ummat lain. Dan sangat lucu sekali, jika kita (ummat Islam), ummat yang terbesar, ummat yang mayoritas di dunia, mengikuti mereka (ummat Yahudi dan Nasrani) yang minoritas (sedikit). Saya sangat respek, terhadap banyak pondok pesantren, bahkan sekolah-sekolah agama yang melarang murid mereka mengungkit-ngungkit valentin tanggal 14 Februari. Perlu dicontoh oleh semua lingkunga muslim, termasuk para orang tua agar memberikan pemahaman yang benar tentang hal ini.

Valentin identik dengan ‘dosa’. Karena memang awal sejarahnya seperti di atas adalah dimulai dengan dosa. Kebanyakan mereka yang sedang dimabuk asmara, sering melewati valentin dengan pasangan mereka, berdua-duaan melakukan hal-hal yang negatif dalam pandangan Islam. Nah sebenarnya bagaimana Islam memandang sebuah hubungan? Adakah pacaran secara Islami? Atau seharusnya bagaimana remaja berhubungan yang benar menurut agama dan lingkungan? Ini mungkin fukus tulisan kali ini, mudah-mudahan bisa kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT.
Istilah pacaran, mungkin sudah tidak asing lagi. Dan sebagian besar kita, pernah mengalami yang seperti ini. Akan tetapi sesungguhnya, pacaran itu orang kebanyakan mengidentikkan dengan hal-hal negatif. Seperti adanya kencan berdua lain jenis yang belum syah. Juga cumbu rayu, melihat aurat lain jenis, bersentuhan lain jenis dan sampai kepada melawan orang tua, akibat dilarangnya mereka pacaran. Tapi apa tidak mungkin, kalau pacaran di-Islamisai sehingga menjadi boleh?

Memang dalam Islam sendiri, tidak mengenal adanya pacaran. Islam hanya mengenal istilah khitbah (tunangan). Namun istilah tunanganpun banyak mereka yang menyalah artikan. Terutama ini banyak saya jumpai di daerah Madura, orang banyak membolehkan anak-anak cewek mereka pergi bahkan menginap di rumah tunangannya. Padahal tunangan sendiri, belum tentu  menjadi kenyataan (suami-istri), karena banyak hubungan tunangan yang putus di tengah jalan. Nah kalau mereka sudah pernah melakukan hal-hal yang dibenci Allah dan putus, bagaimana nasib perempuannya? Akan tetapi, bisakah pacaran itu, yang sepertinya sudah menjadi adat kebiasaan banyak orang di Islamkan? Seperti ‘nyongkol’ dalam suku Sasak adalah tradisi yang di Islamkan. Artinya dalam Islam, tidak mengenal ‘nyongkol’. Namun karena tidak bertentangan dengan Islam (asal dilakukan tidak mengundang maksiat) adalah syah-syah saja untuk dilakukan.

Dalam buku Nalar dan Wahyu tertulis bahwa pengambilan hukum tidak hanya al-Qur’an dan al-Hadits. Al-Qur’an dan al-Hadits dikatakan adalah wahyu sedangkan Nalar menghasilkan yang disebut Ijmak, Qiyas, Urf, Syar’u man Qoblana, Istishab, Maslahah al-Murshalah dan Qoulusshahabah. Ini terjadi karena al-Qur’an sendiri, memberikan ruang gerak akal (Nalar) untuk berijtihad menemukan konsep-konsep hukum yang sesuai dengan zaman dan tidak bertentangan dengan Islam. Nah pada persoalan hubungan, Istishab (penganggapan baik) bisa dijadikan dalail (alasan), asalkan diarahkan kepada ajaran Islam.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT,  dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. Allah sebagaimana firman-Nya, dalam Surat Ali Imran ayat 14 dikatakan, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)."  Berkata Imam Qurthubi, ,  "Allah  memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat setan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita”.

Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. Imam Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan, Rasulullah SAW pun, sebagai manusia tak luput dari rasa cinta terhadap wanita. Sabda beliau dari riwayat Imam Ahmad mengatakan, "Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita." Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah  menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di syurga dengan bidadarinya. Hadits Rasulullah SAW yang lain tentang wanita, misalnya dari riwayat Muslim dikatakan, “"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah." Dan Allah SWT  berfirman, dalam surat Ar-Rahman ayat 70 tentang kecantikan bidadari syurga "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." Namun, Islam sebagai agama paripurna para rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari'at.

Banyak orang sukses, pejabat dan sebagainya runtuh gara-gara wanita. Sering kita melihat orang mungkin dengan senjata kebal, dengan taktik yang lain tidak mempan. Namun dengan ‘senjata’ wanita mereka bertekuk lutut. Maka wajar kalau Rasulullah sendiri, meng-identikkan wanita dengan tiang. Wanita adalah tiang agama, dan tiang negara. Jika mau agama runtuh dan negara hancur, wanitanya harus diruntuhkan dulu moral-moral mereka.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu. Sabda Rasulullah SAW dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Nabi bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 (empat) hal; yakni pertama kecantikannya, kedua  keturunannya, ketiga hartanya dan keempat agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat."  Lalu bagaimana dengan wanita sendiri dalam mencari pria dambaan? Hadits ini juga berlaku untuk kreteria wanita dalam mencari pria pujaan. Harus sesuai dengan empat kreteria, (tampan, keturunannnya, harta dan agamanya). Dan tetap yang menjadi prioritas adalah agama. Karena agama bisa mempengaruhi tiga lainnya. Namun slah satu dari yang tiga tersebut, tidak bisa mempengaruhi agama.

Selain empat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting. Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta'aruf (kenal-mengenal). Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari  suasana romantis saat pacaran. Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yangjujur,sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuan. Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari.

Namun sekali lagi, apakah tidak mungkin meng-islamisai-kan pacaran? Dalam hal ini, saya tertaris budaya ‘midang’ dalam suku Sasak. Bukan berarti saya orang sasak terus mengagung-agungkan budaya sendiri. Walaupun budaya itu sudah banyak ditinggalkan juga, dan banyak disalah gunakan. Midang seingat saya, seorang pria mengunjungi rumah wanita yang dia ingini, entah hanya sekedar melihat satu kalai, atau kenalan melalui handphone atau teman. Yang jelas, wanita tersebut selalu siap bila seorang pria mengunjunginya. Jam ditentukan, tidak boleh siang, bahkan tidak boleh lebih dari jam 9 malam. Begitu pria datang, tidak jarang ditemui orang tua si perempuan terlebih dahulu. Di persilahkan duduk, berjuhan tentunya karena merasa diawasi orang tua si perempuan. Obrolan pun berlanjut, jika sepakat tinggal menentukan kapan akan menikah. Tanpa ada jalan-jalan, dan selalu terawasi orang tua. Ini mungkin lebih ‘Islami’ dari pada model-model pacaran saat ini.


Ini yang saya katakan meng-islam-kan pacaran. Seroang pria hanya cukup mengetahui dari jauh, sosok wanita yang akan dinikahi. Jika prilakunya sesuai, tertarik dan memperkenalkan diri kepada kedua orang tua si perempuan. Kunjungan si pemuda ini, bisa langsung melihat siapa keturunan dan harta dari orang yang akan dinikahi sesuai format hadits mencari pasangan di atas. Kebanyakan masalah anak remaja kita, pacaran tidak diketahui orang tua, bahkan takut dengan alasan tidak disetujui atau dilarang karena masih sekolah. Seharusnya, sebelum cinta berlanjut yang katanya ‘tidak bisa terpisahkan’ sang anak harus memperkenalkan siapa pasangan mereka kepada orang tuanya. Dan bukankah dengan melihat langsung, kita bisa mengetahui akhlak calon kita? Tanpa dibuat-buat agar terlihat baik dimata pasangan. Karena pengertian pacaran seperti diatas, adalah baik dan indah. Sehingga selalu menampilkan ‘kebohongan’ sikap dan prilaku. Baik di depan pacar, sopan, nurut akan tetapi setelah jauh dari pasangan berbalik 180  drajat apa yang mereka lakukan tadi.

Dari itu mudah-mudahan fungsi pengawasan orang tua yanag melekat, bisa merubah tradisi-tradisi yang non-Islami menjadi Islam. Mereka tanpa harus terkekang tidak boleh pacaran, namun tetap boleh asal selalu diawasi dan hanya dirumah saja. Jika berpergian ke luar, lebih enak kalau memang sudah disetujui menjadi calon menantu, mengikut sertakan pasangan bersama keluarga, saya kira itu lebih enak. Keindahan Islam menjaga kehormatan wanita, jangan kita salah artikan, sebab al-Qur’an dalam surat an-Nur ayat ayat 30 dan 31 mengatakan "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan-nya." Apalagi wanita, jika kehormatan sudah terrenggut dan pria tidak bertanggung jawab, hancurlah masa depannya. Na’udzubillahimindzaalik.

Penulis adalah Penyuluh Agama di KUA Mpunda Kementerian Agama Kota Bima.







Minggu, 05 Februari 2012

(Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H) Mencontoh Baik, lebih utama dari Berkata Baik


 Oleh : Musthafa Umar

Kemarin kita memperingati kelahiran Nabi Agung, Muhammad SAW 12 Rabi’ul Awal 1433 Hijriyah. Beliau lahir pada tahun 570 Sebelum Masehi atau lebih dikenal dengan istilah Tahun Gajah (dalam surat Al-Fiil) hingga 632 Sebelu Masehi. Nabi Muhammad SAW oleh Michael H. Hart menempatkan beliau dalam urutan pertama di seratos tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia.  Beliau dilahirkan di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan (jahiliyah). Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Bahkan beliau sendiri adalah seorang buta huruf. Keadaan ekonomi beliau baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala beliau menikah dengan Siti Khadijah, seorang janda tempat beliau mengambil barang dagangan.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala Rasulullah berusia empatpuluh tahun, beliau mendapat kenabiannya. Dan mulai menyebarkan Islam di kalangan kaum Quraisy. Kelahiran beliau adalah rahmat bagi segala alam, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya ayat 107, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Secara konkrit, memang kelahiran beliau adalah memperbaiki akhlak kaum Quraiys pada waktu itu yang jahiliyah (berada dalam kebodohan). Perbudakan manusia dan penindasan kaum lemah serta tidak dihargainya kaum wanita, adalah prioritas setelah pengenalan tauhid (islam) kepada mereka. Namun secara abstrak, kalau akhlak kaum Quraisy itu baik, maka mereka akan baik pula terhadap alam sekitar. Karena manusia diciptakan Allah untuk memimpin bumi (Al-Baqarah ayat 30 dan 34).
Selama tiga tahun Nabi Muhammad SAW hanya menyebar Islam terbatas pada sahabat-sahabat dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 beliau mulai tampil di depan publik. Begitu beliau sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah kala itu (Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sufyan) yang tak lain adalah paman-paman beliau sendiri, memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, beliau hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu beliau ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan. Dan dari sinilah beliau mulai bergerak menyebar luaskan Islam secara besar-besaran.
Terlepas dari pro-kontra faham yang boleh memperingati atau tidak, namun setidaknya kita mengambil hikmah dari kelahiran beliau, untuk kehidupan sehari-hari kita. Seperti sejarah awal maulid sendiri, yang menurut beberapa catatan sejarah diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuan Maulud Nabi adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya. Karena keadaan sekarang tidak jauh beda dengan jaman para khalifah Abu Said al-Qakburi yang menyelenggarakan Maulid pertama kali. Dengan tujuan agar ummat Islam kembali mengingat dan mentauladani Rasulullah. Apalagi kita melihat akhir-akhir ini, banyak anak-anak muda kita bahkan kita sendiri lupa keperibadian beliau. Kita banyak mengidolakan artis-artis atau tokoh-tokoh lain, dari pada mengidolakan Rasulullah SAW.
Dakwah Islam berhasil dengan akhlak, dengan cara-cara santun dan budi pekerti baik. Cara dakwah Rasulullah inilah juga yang diterapkan oleh para Wali Songo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa dan para muballigh di seluruh Indonesia waktu jaman Kerajaan Hindu dan Budha menguasai Indonesia. Bukan hanya akhlak terhadap manusia saja yang ditunjukkan Rasulullah, akan tetapi akhlak terhadap alam sekitar. Bagaimana hadits-hadits Nabi tentang akhlak terhadap hewan (cara memotong hewan) haruslah dengan nama Allah. Tidak boleh membiarkan mereka (peliharaan) kelaparan. Juga kepada tanah dan tumbuhan, bagaimana beliau melarang manusia membuang kotoran disembarang tempat. Ini semua adalah bentuk akhlak-akhlak yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.
Semua bentuk dan cara kita hidup, Rasulullah SAW pernah mencontohkannya. Mulai dari pengembala kambing (peternak), menanam kurma dan bagaimana menghasilkan kurma yang baik (pertanian). Beliau juga pernah menjadi pedagang (perdagangan/niaga), juga seorang khalifah (kepala pemerintahan). Dalam kekhalifahan beliau, kita dicontohkan bagaimana mengadakan rapat menyusun strategi perang (panglima perang) memimpin langsung peperangan. Contoh seorang suami yang shaleh kepada istri-istri beliau, bagaimana memperlakukan istri yang lebih dari satu. Demikian pula akhlak beliau terhadap para tetangga. Juga bagaimana beliau memperlakukan anak-anak beliau (contoh seorang bapak, menantu dan kakek) pernah beliau lakukan. Beliau juga seorang pendidik (guru) karena sering mengajarkan para khalifah berbagai hukum-hukum yang dilakukan atau tidak saat itu. Pernah juga waktu mengeluarkan piagam Madinah, beliau hadir sebagai juru runding (diplomat) ulung. Lalu contoh apalagi yang harus dicari? Semua lini kehidupan manusia saat ini tidak lepas dari apa yang pernah beliau lakukan. Masihkah kita akan mengidolakan selain beliau?
Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah Al-Qur'an, Beliau membenci apa yang dibenci Al-Qur'an dan menyenangi apa yang disenangi oleh Al-Qur'an, tidak dendam dan marah kepada seseorang kecuali jika melakukan hal-hal yang diharamkan Allah, sehingga kemarahannya hanya karena Allah Ta'ala. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merupakan orang yang paling jujur ucapannya, paling memenuhi tanggungjawabnya, paling lelmbut perangainya, paling mulia pergaulannya, lebih pemalu dari perawan pingitan, rendah hati dan selalu berpikir , tidak keji dan tidak pula pengutuk, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi membalasnya dengan memberi maaf dan jabat tangan, barangsiapa meminta sesuatu kebutuhan kepadanya maka tidak pernah ditolaknya, jika tidak ada maka dengan kata-kata yang halus dan tidak dengan hati kasar dan sikap keras, tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali jika bertentangan dengan kebenaran sehingga memotong pembicaraannnya dengan larangan atau berdiri, tidak menganggap bohong kepada seseorang, tidak dengki kepadanya dan tidak memintanya untuk bersumpah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjaga tetangganya dan menghormati tamunya, waktunya tidak pernah berlalu tanpa beramal untuk Allah atau mengerjakan sesuatu yang harus dikerjakan, cinta kepada optimisme dan benci kepada pesimisme, jika ada dua pilihan maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam memilih yang paling mudah di antara keduanya selama tidak merupakan dosa, senang menolong orang yang membutuhkan dan membantu orang yang teraniaya. Beliau juga senang kepada sahabat-sahabatnya, selalu bermusyawarah dengan mereka apabila ada masalah, mengunjungi orang sakit, mendo'akan yang meninggal, serta menerima alasan orang yang udzur kepadanya. Baginya, orang yang kuat dan orang yang lemah mempunyai hak yang sama, beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga berbicara, jika orang menghitung pembicaraannya tentu akan dapat menghitungnya karena jelas dan pelannya. Di samping itu, beliau shallallahu 'alaihi wasallam juga bergurau dan tidak pernah mengucapkan kecuali kebenaran.
Akhlak yang ditunjukkan Rasulullah SAW adalah bersumber dari wahyu (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah SWT, sebagai mukjizat terbesar beliau. Al-Qur’an adalah petunjuk dan penerang serta penjelas sekaligus obat bagi manusia. Dan Al-Qur’an hanya diperuntukkan untuk Islam. Oleh karena itu, kemana lagi  ummat Islam harus merujuk akhlaknya, kecuali kepada Al-Qur’an. Mungkin tidak akan cukup jika saya hanya menulis artikel tentang keperibadian Nabi Muhammad SAW hanya dua sampai tiga halaman koran ini saja. Untuk lebih komplitnya, silahkan kita mencari dan menggali kembali tentang Islam secara kaffah (menyeluruh), secara kamil (sempurna) dalam Al-Qur’an dan para ustad-ustad yang sudah banyak disekitiar kita. Agar akidah akhlak kita sesuai dengan panutan kita, yakni Muhammad SAW.
Karena dasar asasi kehidupan ummat Islam, adalah akidah dalam lubuk hati. Karena Islam, perbuatan dan pengabdian seorang itu tidak akan diterima oleh Allah SWT. Berakidah akhlak baik adalah cerminan iman seseorang yang mantap. Dan iman merupakan syarat diterimanya amal oleh Allah SWT. Apa jadinya akalu amal perbuatan kita selama ini, tidak dibarengi dengan iman (akidah akhlak) yang baik, yang sesuai al-Qur’an? Maka tentu tidak diterima atau sia-sia belaka. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 96, “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesunggugnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Perubahan yang lain, yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah perubahan sosial kemasyarakatan. Dengan kelahiran beliau, masyarakat ditata kembali, sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan saling membutuhkan, saling tolong menolong dan saling hormat menghormati sebagai makhluk Allah SWT yang sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan. Komitmen beliau ini, sesuai dengan sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “tidak sempurna keimanan seseorang sehingga mereka mencintai kepada saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.  Hadits ini jelas kaitannya dengan masalah iman. Coba kita renungkan bagaimana detik-detik perpisahan Rasulullah dengan kehidupan saat itu (syakratul maut). Saat datang malaikat Izrai’il yang ditugasi Allah SWT mencabut nyawa beliau. Ditemani Siti Fatimah dan Sahabat Sayyidina Ali ra, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Sayyidina Ali ra, yang kala itu memang berada persis di samping beliau,  segera mendekatkan telinganya.  Pesan beliau kepada Sayyidina Ali ra "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu).
Sementara di luar pintu tangis  mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Siti Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Sayyidina Ali ra kembali mendekatkan telinganya ke bibir
asulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?"  (Umatku, umatku, umatku). Tiga kali Rasulullah memanggil dan mengkhawatirkan kita (ummatnya). Bukan hanya itu, sebelumnya terjadi dialog antara Malaikat Jibril yang memang iktu dengan Izra’il kala itu dengan Nabi Muhammad SAW, "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar  menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan."Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Rasulullah SAW lebih banyak memperlihatkan contoh kehidupan. Ucapan-ucapan beliau dibarengi dengan tingkah laku (akhlak) yang sesuai (jujur). Tidak seperti kebanyakan kita, lebih banyak bicara dari pada kerja.  Saat ini memang banyak orang yang hanya bisa bicara baik, namun bukan memberikan contoh baik. Misalnya saja, sering orang tua menyuruh anak-anak mereka puasa, sholat, mengaji dan berkata-kata baik. Namun terkadang mereka sendiri (para orang tua) melakukan hal-hal yang bertentangan. Figur inilah dalam kehidupan jarang dilakukan, sehingga kalau anak-anak kita melakukan kenakalan, maka kembali ke belakang (orang tuanya) mungkin tidak pernah memberikan contoh yang baik dalam perkataan, perbuatan dan pergaulan. Dalam dunia pendidikan, model pembelajaran visual (gerak) adalah model pembelajaran yang paling bagus dari merode ceramah. Jadi orang tidak harus “teriak” mengatakan --ayo sholat--namun dirinya tidak sholat. Contoh lain banyak dalam kehidupan, entah terlihat atau tidak terlihat namun efek dari perbuatan tetap kepada generasi kita selanjutnya. Banyak orang yang melakukan perbuatan tidak baik, dengan alasan tidak terlihat anak-anak mereka, atau istri bahkan murid-murid mereka. Namun tahukah anda bahwa semua akan kembali kepada mereka (anak, istri dan murid) anda. Karena ilmu itu adalah nur (cahaya) yang tidak terlihat pancarannya, kapan dan dimana seseorang itu akan mendapatkannya. 
Begitulah keperibadian Rasulullah SAW yang tertuang dalam Al-Qur’an. Dalam segala segi kehidupan Nabi kita adalah penuntun yang terbaik terutama dalam meraih hidup yang tentram dan bahagia. Hal ini juga diceritakan Allah SWT dalam firman-Nya surat Al-Ahzab ayat 21, “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan (akhlak) yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”. Dari itu hendaknya bulan ini, mari kita jadikan benar-benar bulan pendekatan diri kita kepada Nabi Muhammad SAW, baik dengan bershalawat ataupun kembali memperbaiki akhlak kita, agar kelak kita bersama beliau dan mendapat (syafa’at) nya di hari kiamat. Amin.



Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kemenag. Kota Bima









Minggu, 29 Januari 2012

Peluang dan Tantangan Komunikasi Islam di Era Informasi

Oleh : Musthafa Umar

Lama sudah kita masuk di era informasi, mau tidak mau semua kita pasti akan memasuki wilayah satu ini. Perkembangan media begitu pesat, apalagi di Indonesia setelah Soeharto lengser, SIUPP di cabut yang sebelumnya di bubarkannya Departeman Penerangan, memudahkan orang mendirikan radio, TV, Majalah dan Koran seenaknya, bagai jamur di musim hujan. Dulu HP (hand phone) barang mewah dan langka, namun saat ini semua usia bisa mengoprasikan HP. Begitu halnya dengan Internet, sudah merambah wilayah pedesaan. Hal ini menyebabkan skat dan filter informasi, terasa  tipis sekali. Lalu bagaimana seharusnya sikap kita umat islam dalam menghadapi era ini? Sekelumit tulisan ingin saya sampaikan di rubrik oipini media ini, semoga bermanfaat untuk kita semua, terutama umat islam.
Kebetualan S.1 saya di Komunikasi Penyiaran Islam jadi sangat perlu meluruskan bagaimana seharusnya seorang Muslim berkomunikasi yang islami dengan sesamanya. Informasi ada yang beilang berita, adalah ‘penguasa’ dunia ke tiga. Ingat perangnya Irak dan Amerika, itu semua berawal dari perang opini (anggapan) di media saling serang, dan sampai ke peperangan. Begitu halnya dengan kejadian di sekitar kita, saya perihatin atas kejadian Kolo dan Melayu beberapa waktu lalu. Dan bagian ini, tidak lepas dari perang opini dan informasi keliru. Nah Informasi itu simpulnya kabar/ berita bersumber dari ucapan seseorang yang dituangkan dalam gambar (visual) atau suara (audio). Informan (yang memberikan informsi) kalau tidak pandai memosisikan diri dan bahasa, terkadang salah ditangkap dan di dengar oleh audience (pendengar) bisa menjadi masalah besar. Konflik seperti beberapa waktu lalu, adalah ‘berkat’ informasi yang keliru. Benar kata pepatah “lidah tak bertulang” dan Nabi kitapun mengingatkan betapa besar akibat -keseleo- lidah. Bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu hendaknya kita pandai-pandai mengartikan sebuah sebuah informasi sebelum disampaikan keorang lain. Berpikirlah apakah informasi yang akan kita sampaikan keorang lain itu, akan berdampak positif atau negatifkah pada keadaan selanjutnya.
Tantangan
Pertama-tama saya mencoba mengutip saduran Ziauddin Sardar dalam bukunya, tantangan dunia islam abad 21 bahwa revolusi informasi kini sedang dijajakan sebagai sebuah rahmat bagi umat manusia. Penjajaannya bisa kita lihat, dengar dan baca di media massa. Entah apakah itu koran, majalah, radio dan televisi serta internet. Namun beliau mempertanyakan apakah perkembangan informasi ini, akan menjadikan atau melahirkan masyarakan yang lebih baik, atau sebaliknya? Apakah melimpah ruahnya teknologi informasi mengandung makna bahwa kita lebih mampu mengendalikan masa depan? Seperti judul tulisan ini, tantangankah atau peluangkah?
Secara paradoks, abad informasi adalah upaya untuk meningkatkan pengendalian manusia atas kehidupan, tapi kenyataannya justru menghasilkan efek terbalik. Bagi dunia muslim, revolusi informasi menghadirkan tantangan-tantangan khusus yang harus diatasi demi kelangsungan hidup fisik maupun budaya umat. Menghadapi teknologi-teknologi informasi yang baru itu ibarat melintasi sebuah padang ranjau. Kemajuan teknologi dibidang komunikasi telah mengantarkan alat komunikasi massa dapat menjalankan fungsinya secara baik. Tetapi dibalik itu dalam menjalankan fungsi tersebut sering terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai yang ada.
Beberapa tantangan yang dapat diidentifikasi pada era informasi bagi perkembangan dan untuk membangun komunikasi islam di masa yang akan datang adalah; pertama, keberadaan publikasi informasi merupakan sarana efektif dalam penyebaran isu. Kekuatiran terhadap terjadinya streotype dan subordinasi komunitas tertentu menjadi masalah utama dalam era globalisasi informasi ini. Hal ini disebabkan pada era Intercultural dan International communication (komunikasi internasional dan antar budaya). Komunikasi antar budaya diartikan sebagai komunikasi antara manusia yang berbeda budaya, sedang komunikasi internasional merupakan proses komunikasi antar bangsa yang secara fisik dipisahkan oleh batas-batas teritorial sebuah negara.
Masalah yang dihadapi dalam proses komunikasi seperti ini adalah timbulnya sikap curiga terhadap ras, budaya dan negara lain. Setiap etnis atau suku bangsa memiliki latar belakang, perspektif, pandangan hidup, cita-cita dan bahasa yang berbeda, namun proses komunikasi informasi  pada era ini berpretensi menyeragamkan berbagai latar belakang di atas, sehingga berpotensi menimbulkan ekses chaos dalam dinamika masyarakat. Komunikasi islam dihadapkan pada pertarungan ideologi dan pemikiran untuk seterusnya mempengaruhi sekaligus membentuk public opinion tentang islam dan umat islam, dalam rangka mengcounter isu-isu negatif informasi Barat terutama tentang islam.
Kedua, dalam banyak aspek keperkasaan Barat dalam dominasi dan inprealisme informasi pada era ini menimbulkan sekularisme, kapitalisme, paraagmatisme dan sebagainya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi konsep bangunan komunikasi islam di masa depan untuk mengeleminir seluruh nilai-nilai komunikasi informasi yang bertentangan dengan nilai luhur islam dan  budaya ketimuran kita tentunya. Memang dalam hal ‘menguasai’ islam sangatlah jauh tertinggal untuk hal seperti itu. Barat dengan kroni-kroninya lebih banyak menguasai medan dari pada orang-orang islam sendiri. Namun bukan berarti kita harus mengikuti arus, akan tetapi pandai memanfaatkan dan memosisikan tempat yang sesuai dengan kondisi dan keadaan kita.
Ketiga, dari sisi pelaksanaan komunikasi informasi, ekspose persoalan-persoalan seksualitas, peperangan dan tindakan kriminal lainnya mendatangkan efek yang berbanding terbalik dengan tujuan komunikasi dan informasi itu sendiri. Masyarakat dihadapkan pada berbagai informasi yang bertendensi patologis sehingga perilaku masyarakat juga cenderung sebagai mana dilihat, didengar dan disaksikannya. Amat disayangkan gencarnya terpaan media massa dalam proses komunikasi memberi banyak masalah dalam kehidupan Muslim. Ditambah lagi, tayangan-tayangan tertentu media massa oleh sebagian ulama masih diperdebatkan soal halal dan haramnya. Tantangan komunikasi islam dalam konteks ini bagaimana menghadirkan isi pesan komunikasi yang sekuen dengan fungsi komunikasi itu sendiri, yakni to inform, to educate, dan to entertain. Kesemuanya fungsi ini adalah untuk mewujudkan kesamaan makna sehingga mendorong terciptanya perubahan sikap atau tingkah laku masyarakat Muslim untuk kepentingan mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Keeempat, lemah sumber daya modal maupun kualitas negara-negara Muslim memaksa masyarakat Muslim menginport teknologi komunikasi informasi dari dunia Barat. Bersamaan dengan itu adopsi nilai tidak bisa dihadirkan. Hampir semua negara-negara Muslim menggantungkan diri dari software maupun hardware dari negara-negara Barat. Dalam sistem Barat menurut Hamid Mowlana dalam Jurnal Media, Culture & Society,  komunikasi informasi dipandang sebagai komoditi, bukan moral atau etika. Ini mengakibatkan  Barat mengekspor ideologi sekuler yang menjadi inti terwujudnya the information society dalam era the new global order. Tantangan komunikasi Islam pada era ini adalah mewujudkan komunikasi yang berbasis moral dan etika untuk kesejahteraan umat manusia, bukan hanya sebagai komoditi kekuasaan ansich.
Peluang
Hal di atas adalah tantangan-tangan yang kita hadapi saat ini dan tentunya akan datang untuk generai-generasi kita. Lalu bagaimana dengan peluang komunikasi islam di masa depan dalam era informasi ini?  Perlu kita letakkan pertama-tama adalam, informasi bukanlah hal yang baik dan buruk, namun pemakainya sajalah yang menjadikan informasi itu menjadi baik dan buruk. Ziauddin Sardar kembali mengatakan, bahwa sains tidaklah membawa mudarat, mudaratnya berasal dari orang yang menggunakannya. Karena tipe semua informasi saling berkaitan dan saling bergantung, terutama dari matrik ilmu pengetahuan tentang masyarakat, yang bertindak sebagai pemandu yang memberikan pada kehidupan dan lingkungan manusia.
Ilmu pengetahuan tentang masyarakat dipengaruhi oleh empat jenis sistem penginformasian yang membentuk sifat dan karakternya. Pertama, pandangan dunia merupakan sistem penginformasian yang terluas, mengaitkan kosmologi dengan etika, dan bisa berorientasi teistik maupun nonteistik. Kedua, pengetahuan tentang masayarakat itu sendiri (nasionalisme), ketiga, lembaga-lembaga sosial yang ada. Dan keempat, filsafat pribadi. Keempat sistem penginformasian ini membentuk ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Dengan demikian, informasi tidak akan pernah menjadi netral, ia diciptakan dalam batas-batas tertentu untuk melayani kebutuhan-kebutuhan nasional, internasional ataupun pribadi tertentu. Ketika berurusan dengan informasi, kita harus menyadari hakikatnya yang sejati. Kita harus menyadari sistem-sistem penginformasian yang terlibat dalam kemunculannya. Informasi itu sendiri adalah suatu proposisi atau proposisi-proposisi yang multidimensional dengan komponen-komponen yang absolut, dan objektif, sebagai juga subjektif dan kultural, yang disaring, baik secara deduktif maupun induktif, dari data mentah yang dihimpun, diseleksi, dan diorganisasikan berdasarkan suatu pandangan dunia, kebutuhan nasional, tuntutan-tuntutan kelembagaan, dan filsafat pribadi, untuk memperbesar kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pencapaian tujuan. Jadi peluang pengembangan komunikasi Islam pada masa depan adalah sebagai berikut :
Pertama, dalam perspektif Islam, perlulah disadari bahwa informasi akan mempunyai arti hanya bila ia berada dalam kerangka pengetahuan tentang masyarakat, hanya bila komponen sasarannya selaras dengan aspek-aspek mutlak, substitusional, kultural dan subjektif suatu masyarakat, barulah informasi akan dapat memberikan sumbangan positif kepada masyarakat itu sendiri. Keselarasan semacam ini akan dapat terjadi bila mana negara-negara Muslim menghasilkan informasi mereka sendiri dengan perlengkapan relevan yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan para pembuat keputusan dan komunitas-komunitas mereka. Strategi informasi bagi dunia Muslim harus didasarkan pada kesadaran ini.
Kedua, adanya perubahan dari era industri menuju era informasi menyangkut orientasi masyarakat yang menjurus kepada masalah ekonomu, dalam bidang informasi dan komunikasi ini akan mendatangkan kesempatan kerja (job opportunity) bagi masyarakat Muslim. Banyaknya profrsi yang harus diisi dalam bidang informasi, menghabiskan waktu untuk merencanakan, memeroses, dan mendistribusikan informasi. Ketiga, pada masa depan komunikasi Islam itu dapat dikembangkan dengan memperhatikan tujuh konsep pokok islam yang mempunyai kaitan langsung dengan penciptaan dan penyebaran informasi, yakni tauhid (keesaan), ‘ilm (ilmu pengetahuan), hikmah (kebijakan), ‘adl (keadilan), ijama’ (konsensus), syura (musyawarah), istislah (kepentingan umum), dan ummah (komunitas Muslim semuanya).
Seluruh konsep informasi ini dimaksudkan sebagai katalisator bagi pembangunan dan perantara perubahan sosial. Ia diharapkan akan dapat memajukan kemandirian dan partisipasi masyarakat serta membawa suatu masyarakat kearah keadilan sosial dan keontentikan kultural. Sebagai katalis sosial, agen-agen dan jasa-jasa informasi tidak memainkan peranan yang tidak memihak pada tujuan, pekerjaan mereka adalah untuk menggerakkan perubahan yang diinginkan dan membantu masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
Keempat, peluang eksistensi komunikasi Islam pada masa depan tentu saja berangkat dari historis empirikal. Selama abad pertama Islam, tradisi lisan merupakan sarana utama dalam menyebarkan informasi. Namun segera diketahui bahwa ingatan tidak dapat diandalkan sepenuhnya, sehingga catatan tertulispun mulai berlaku di antara para penuntut ilmu pengetahuan. Pada masa-masa selanjutnya, buku sebagai suatu catatan terpadu atas pikiran, mulai muncul dan berkembang. Dalam periode ini buku sudah menjadi sarana yang umum dan banyak digunakan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan informasi.
Tepat seratus tahun setelah datangnya Islam, industri buku maju pesat sedemikian rupa. Buku diperlukan dalam semua upaya menuntut ilmu pengetahuan. Analisis singkat terhadap sejarah perbukuan periode klasik Islam menunjukkan bahwa buku merupakan infrastruktur penyebaran informasi dalam rangka menegakkan peradaban Muslim. Peluang ke depan, tentu saja karena umat Islam telah memiliki pengalaman dan akar budaya masa lalu, menjadi sarana potensial untuk menguptodatekannya dan mengupgradenya dalam konteks kekinian.  Di sinilah letak kekurangan Islam pada zaman dulu. Karena itu banyak istilah-istilah penamaan adalah berbahasa Yunani. Islam hanya mengenal lisan, tidak rajin menulis sehingga catatan-catatan penting penemuan islam tidak terdata dengan baik. Dari itu mari generasi selanjutnya ini, hendaknya merubah paradigma lisan ke tulisan, dan bukankah Nabi memerintahkan kita untuk mencatat setiap transaksi yang kita lakukan? Bahkan Allah memberikan inspirasi kita sebenarnya dengan dua Malaikat yang selalu mecatat amal baik dan buruk manusia, lalu kenapa kita jarang mencatat?? Wallahua’lam bisshawab.
 
Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Mpunda Kementerian Agama Kota Bima.

Perlunya Motivasi Ekstrinsik Dalam Belajar

Oleh : Musthofa Umar, S.Ag., M.Pd.I.
 
Kegiatan memotivasi kelihatannya memang spele akan tetapi, seorang anak bisa bangkit dan berubah adalah bukan karena kepintarannya saja, melainkan motivasi yang diberikan atau yang mereka dapatkan. Ada dua macam motivasi yang bisa merubah keadaan seorang yakni motivasi instinsik dan ekstrinsik. Namun yang kita bahas pada kesempatan ini adalah motivasi ekstrinsik. Ekstrinsik (eks) adalah luar dari seseorang untuk berubah terutama motivasi ekstrinsik untuk anak didik (siswa) dalam mencapai prestasi belajar yang memuaskan. Bisa berbentuk ucapan (saran) atau tindakan (contoh). Nah sebelum kita bahas lebih jauh tentang apa itu motivasi ekstrinsik, kita lihat dahulu pengertian motivasi itu sendiri.
Motivasi berpangkal dari kata "motiv" yang dapat diartikan daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dari tercapainya suatu tujuan. Sedangkan Oemar Hamalik dalam bukunya Kurikulum dan Pembelajaran memberikan definisi tentang motivasi adalah sebagai suatu proses pengetahuan yang dapat membantu kita menjelaskan kelakukan yang kita amati dan untuk memperkirakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang, menentukan karakteristik proses ini berdasarkan petunjuk-petunjuk tingkah laku. Simpulnya motivasi diartikan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu. Jadi motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang, yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Lalu apa itu motivasi ekstrinsik? Sadriman mendefinisikan bahwa motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Bisa disebut juga perangsang yang timbul bukan dari personal yang bersangkutan tetapi tumbuh karena ada faktor lain yang ada di luar pribadi seseorang, sehingga pengaruh-pengaruh tersebut mampu merubah pola sikap dan kemauan dari seseorang untuk melakukan sesuatu.
Dalam kehidupan manusia motivasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan aktifitas begitu juga bagi siswa, motivasi belajar itu ada yang secara langsung timbul dari siswa dan ada yang diperoleh karena dorongan dari luar dirinya, motivasi merupakan pendorong usaha dalam pencapaian prestasi. Seseorang melakukan usaha dan pencapaian karena adanya motivasi, adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik, dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun terutama di dasari dengan adanya motivasi maka seseorang yang belajar itu akan dapat menghasilkan prestasi yang baik. Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi, makin tepat motivasi yang diberikan akan makin berhasil pula pelajaran itu.
Belajar menurut Slameto ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan Robert M. Gagne mendefinisikan belajar adalah sesuatu yang terjadi di dalam benak seseorang di dalam otaknya. Jadi belajar merupakan suatu proses dimana guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar yang menginginkan adanya perubahan tingkah laku secara konstruktif. Guru harus senantiasa berusaha agar dalam pelaksanaan proses belajar mengajar berjalan sebagaimana yang diharapkan yaitu dengan memberikan motivasi yang cukup kepada peserta didik. Dari definisi-definisi di atas, di simpulkan bahwa belajar adalah dorongan yang mengarahkan dan menggerakkan prilaku orang atau siswa belajar. Dari sinilah, orang sering menganggap melihat dan mendengar dalam kesehariannya adalah kegiatan belajar yang terus menerus, karena setiap orang/siswa melihat sesuatu maka dengan itupula timbul dorongan di otak untuk melakukan hal yang sama di masa yang akan datang atau saat itu juga. Nah dalam kegiatan belajar peranan motivasi memiliki arti yang sangat penting, karena dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri orang/siswa yang menimbulkan semangat dalam melaksanakan aktifitas belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar mengajar yang efektif dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang hendak dicapai oleh orang/siswa mudah tercapai. Orang/siswa yang memiliki motivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar, memberikan motivasi kepada orang/siswa berarti menggerakkan orang/siswa untuk melakukan atau mendorong untuk berbuat sesuatu.
Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan sikap, individu untuk belajar. Motivasi belajar harus diberikan secara tepat dan efesien untuk mendukung kelancaran aktifitas dalam belajar. Ada beberapa fungsi motivasi yakni; pertama, mendorong manusia untuk berbuat, motivsi dalam hal ini sebagai penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan. Kedua, menentukan arah perbuatan yakni, ke arah tujuan yang hendak dicapai, demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan tujuannya. Ketiga, menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan.
Kalau seseorang memiliki kemampuan atau keinginan untuk berubah dari dalam dirinya, maka peranan lingkungan atau sesuatu yang berada di luar seseorang juga akan mampu memberikan motivasi pada seseorang. Seseorang yang enggan melakukan sesuatu akan merasa harus mengerjakan karena memang lingkungan atua sesuatu yang ada di luar dirinya mengharuskan melakukan sesuatu. Seperti halnya seorang siswa yang tidak rajin belajar di rumah, maka guru harus memberikan Pekerjaan Rumah (PR) agar siswa meluangkan waktu mainnya untuk belajar atau mengerjakan pekerjaan rumahnya. Di samping itu orang tua yang ada di rumah juga memiliki kewajiban untuk memberikan nasehat dan pengertian kepada anaknya agar memberikan pengarahan.
Adapun motivasi yang dihasilkan pemberian tugas adala, (a) merangsang anak didik berusaha lebih baik, memupuk inisiatif bertanggung jawab dan berdiri sendiri. (b) memperkaya kegiatan-kegiatan di luar, dan (c) memperkuat hasil belajar kelembagaan dengan jaln mengintegrasikan.  Selain memberikan tugas, bentuk motivasi ekstrinsik adalah bisa berbentuk pemberian hukuman. Hukuman diberikan apabila, mulai teguran, peringatan, tidak mampu menghentikan perbuatan yang melanggar peraturan atau tata tertib yang dilakukan oleh siswa. Hukuman harus diberikan betul-betul menyentuh baik perasaan maupun fisik. K. Daniel O'leary mendefinisikan, hukuman adalah konsekwensi dari suatu perbuatan yang dimaksudkan untuk mengurai kemungkinan terjadinya perbuatan itu di masa yang akan datang atua perbuatan suatu pengertak yang tidak disuki sebagai akibat dari perbuatan. Sedangkan Dewa Ketut Sukardi berpendapat tentang hukuman adalah, mereka harus memberikan motivasi yang diperlukan untuk mencapai sasaran itu dan memberikan hukuman-hukuman yang diperkirakan perlu untuk mencegah kegagalan studi peserta didik.  
Bentuk ketiga dalam pemberian motivasi ekstrinsik adalah melakukan evaluasi. Nana Sudjana mengartikan evaluasi sebagai kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan keputusan yang dimilikinya, dan kriteria yang dipakainya. Dalam hal ini bisa berbentuk test baik dengan metode menggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang lain dimana persoalan-persoalan atau pertanyaan-pertanyaan dan sebagainya itu telah dipilih dengan seksama dan telah distandarsasikan, artinya telah adanya standart yang tertentu. Kegiatan motivasi tentu harus dilakukan terus menerus dan oleh semua pihak, sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan.  Amin.
 
 
Penulis adalah Penyuluh Agama di KUA Mpunda Kemenag Kota Bima

Manusia, Pemimpin di Bumi bukan Perusak!



Oleh : Musthofa Umar

Sering kita dengar cerita-cerita ustad kita dulu, bagaimana saat penciptaan manusia pertama (Nabi Adam as). Allahpun menetapkan tujuan penciptaanNya adalah untuk memimpin bumi ini. Sempat malaikat tidak setuju, dengan alasan nantinya manusia akan menjadi perusak bumi saja, saling bunuh dan sebagainya. Namun jawaban Allah SWT, Aku maha tahu apa-apa yang kamu tidak ketahui. Bahkan iblis tidak mau sujud karena merasa lebih mulia penciptaannya dari pada Nabi Adam as yang hanya dari tanah. Ini semua cerita Allah SWT dalam FirmanNya di surat Al-Baqarah ayat 30 dan 34.
Allah SWT telah menjadikan alam ini begitu indah, dan planet bumi yang kita tinggali adalah satu-satunya planet yang bisa kita diami dari pada planet-planet yang lain. Semua isi alam, dari semua unsur yang ada hanya diperuntukkan untuk manusia. Terutama empat unsur yang menjadikan manusia ada. Empat unsur itu adalah air, tanah, udara dan api. Dari itu menjaga bumi sama dengan menjaga tubuh ini dari binasa. Karena antara satu dan lainnya saling ketergantungan, untuk sama-sama mempertahankan hidup. Akan tetapi semua kembali kepada manusia yang paling sempurna penciptaannya. Dari itu kita yang dihormati Allah diberikan kemulyaan untuk mengelola bumi dari pada makhluk-makhluk lain. Mengelola flora (tumbuh-tumbuhan), mengelola fauna (hewan), udara, air, laut, sungai, mineral, energi, zat dan apa saja yang dibutuhkan untuk kelestarian manusia kita harus pimpin dan jaga kelestariannya.
Namanya pemimpin harus memberi contoh yang baik terhadap apa-apa yang dipimpinnya. Harus meneggak supermasi hukum Allah SWT yang sudah dibuat. Seperti yang saya tulis di atas, bahwa manusia diciptakan Allah SWT dari unsur-unsur yang ada di bumi. Coba kita telaah kembali ayat 61 surat Hud, Allah SWT berfirman, “Dia (Allah) yang telah menjadikan kamu dari bumi (tanah) dan memerintahkan kamu untuk memakmurkannya, dan mohon ampunlah kamu pada-Nya dan bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Allah maha dekat dan maha menerima permintaan”. Secara biologis manusia berasal dari unsur tanah, awal mula berbentuk debu, lalu berubah menjadi lumpur kemudian menjadi lumpur hitam dan setelah itu menjadi patung manusia dan proses terakhir, Allah SWT meniupkan ruh pada patung manusia (Adam) saat itu. Demikian Allah SWT bercerita dalam firman-firman-Nya di al-Qur’an tentang kejadian manusia.
Berangkat dari proses penciptaan ini, sebagian agama ardi (bumi) mempercayai hal itu bahwa manusia berasal dari debu dan kembali ke pencipta-Nya harus berbentuk debu. Sehingga untuk menjadikan manusia debu, setelah meninggal mereka di aben (bakar) dan abunya diarungkan ke laut untuk menuju Sang Hyang Widi Wase. Kembali ke proses kejadian manusia di atas, begitu terlihat bahwa manusia sangat tergantung kepada bumi/tanah, air, udara dan unsur-unsur lain yang ada di bumi. Maka wajarlah manusia harus memakmurkan bumi/tanah ini, membangun, memperbaiki dan menjaga ekosistem yang berlaku di bumi, hal inilah yang merupakan bentuk kepimpinan manusia sesuai tujuan penciptaannya di bumi oleh Allah SWT.
Hal tersebut merupakan sasaran utama dalam memakmurkan bumi. Manusia harus melestarikan makhluk lain seperti flora (tumbuh-tumbuhan), fauna (hewan).  Apabila manusia tidak melestarikan ekosistem alam ini, akan berakibat kepada diri mereka sendiri. Misalnya kalau kita membabat habis hutan, atau membakarnya maka akan mengakibatkan bencana longsor, kekeringan, banjir, polusi udara sehingga dampaknya yang lebih besar bahwa manusia akan mengalami masa paceklik atau kelaparan dan kekurangan gizi. Kenikmatan sesaat dalam menikmati hasil bumi tidak sebanding dengan akbibat yang akan ditimbulkan untuk generasi-generasi kita selanjutnya. 
Contoh lain di laut misalnya, perusakan hutan bakau akan mengakibatkan abrasi terus-menerus karena tidak adanya pemecah gelombang di pinggir laut. Belum lagi, bakau atau tanaman lain di laut adalah tempat bertelur dan berkembang biaknya ikan serta sejenisnya. Maka kalau manusia merusak itu, ikan akan pindah ke tempat lain, nelayan kita akan kering dalam menangkap ikan. Termasuk menjarah terumbu karang di dasar laut, itu juga bisa membuat pindahnya ikan-ikan kecil yang hidup di sana, karena tidak ada tempat bertelur dan melindungi diri dari ikan-ikan besar. Nah kalau ikan-ikan kecil sudah tidak ada, maka secara langsung ikan-ikan besar juga tidak ada, karena makanannya tidak ada yakni ikan-ikan kecil, ikan-ikan itu juga akan berpopulasi ke tempat lain, sehingga mengurangi jatah nelayan setempat.
Kita lihat peringatan Allah SWT dalam surat Al-Qashash ayat 77, “dan carilah apa-apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan negeri akhirat) dan janganlah kamu lupakan bagianmu (kebahagiaan) di dunia dan berbuat baiklah kepada makhluk-makhluk lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di atas bumi, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan”. Bukan hanya itu peringatan dan perintah Allah SWT, di ayat 204-205 surat Al-Baqarah Allah SWT juga mengingatkan kita, “dan diantara manusia-manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia sangat menarik kamu, dan dipersaksikan kepada Allah (atas kebenaran ucapannya) apabila ia adalah penantang yang paling keras dan apabila ia berpaling darimu ia berusaha berbuat kerusakan di muka bumi dan menghancurkan tanaman, ternak, dan sebagainya. Dan sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan”.
Ternak saja, walau diperuntukkan untuk kesejahteraan manusia, namun dalam memperolehnya harus dengan jalan halal. Dalam penyemblihannya, harus menyebut nama Allah dan beberapa syarat rukun yang harus dipenuhi, sehingga syah dan halal untuk dimakan. Itu merupakan bentuk atau cara manusia memperlakukan sesama makhluk dengan baik dan benar. Bukan karena manusia sebagai pemimpin, lalu semena-mena terhadap yang dipimpin walaupun dia (binatang/hewan) itu bukan dari bangsa kita. Kalau saya simpulkan, ada beberapa unsur-unsur bumi yang harus kita pelihara kelestariannya; pertama, air. Mengenai air, firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya’ ayat 30, “dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, apakah kamu tidak beriman?”. Begitu pentingnya air sehingga Allah sampai menyandingkan ayat ini dengan kata-kata iman. Memang benar sekali, bahwa manusia juga lahir dari air. Begitupun dengan segala yang tumbuh dan hidup, sel-sel mereka tercipta dari air. Sehingga kita sangat tidak dibenarkan mencemarkan air.
Hadits Rasululullah SAW dari sahabat Mu’az bersabda, “hindarilah (takutlah) tiga kutukan; (1) buang kotoran pada air yang mengalir, (2) di jalan yang dilalui orang, dan (3) di tempat-tempat berteduh”. Hadits ini masuk ke larangan-larangan buang hajat sembarang tempat. Adab manusia harus membuang kotorannya ditempat yang tertutup dan tidak menganggu orang lain. Sungai dan laut adalah air yang mengalir, banyak orang yang memanfaatkannya. Ada sebagian orang yang menggantungkan hidupnya di air, misalnya mencuci, membersihkan beras, memandikan hewan-hewan mereka dan mencari ikan atau hasil laut yang lain. Maka kalau banyak kotoran manusia, tentu akan jijik dan tercemar sehingga air tidak bisa dimanfaatkan lagi dengan baik.
Kedua, tanah. Unsur yang ini tidak kalah penting juga dengan unsur yang pertama tadi (air). Tanah berkaitan dengan air, tanah bisa menyimpan dan mengeluarkan air. Dari tanah, segala bentuk tanaman yang dimakan manusia tumbuh, terkadang dalam unsur tanah juga ada benda-benda yang bisa untuk dimanfaatkan manusia. Misalnya; emas, batu berlian, timah, marmer, batu kapur, tembaga, besi, nikel, atau untuk kerajinan-kerajina tangan(gerabah, batu-bata, genteng). Semuanya untuk kepentingan manusia, nah apabila manusia tidak bisa mengelola dan menjaga dengan baik, maka akan berakibat buruk kepada manusia juga.  Ketiga, tumbuh-tumbuhan. Dengan unsur pertama dan kedua juga berkaitan. Tumbuh-tumbuhan, tidak akan bisa tumbuh tanpa ada tanah dan air yang menyiram serta memberikan minum akar-akar mereka. Tumbuh-tumbuhan, baik yang berbuah maupun tidak berbuah sangat dimanfaatkan manusia. Untuk makanan, minuman, tempat tinggal dan peralatan-peralatan lain dalam melangsungkan kehidupan mereka. Dari itulah kita sangat diminta untuk menjaga kelestarian alam ini.
Karena pentinya menjaga tanaman/tumbuh-tumbuhan, sampai Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah sabdanya, “jika seandainya besok terjadi hari kiamat, sedangkan ditanganmu ada bibit tanaman, hendaklah kamu menanamnya, bagimu akan mendapat ganjaran disisi Tuhanmu”. Terkadang tidak dirasakan manfaatnya langsung akan tetapi nantinya dirasakan juga, misalnya madu yang dihasilkan dari lebah yang menghisap putik sari bunga-bunga semua tanaman. Keempat, hewan. Kelangsungan hidup manusia, juga bergantung pada hewan. Hewan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan (rumput dan daun-daunan) untuk dimakannya, membutuhkan air dan menyumbangkan pupuk dari kotorannya untuk tanah yang menyebabkan tanah menjadi subur untuk tanam-tanaman. Lalu manusia menikmati hewan dalam bentuk gizi yang luar biasa, dari telur ayam, daging ayam, sapi, kerbau dan memanfaatkan tenaga kuda untuk menarik pedati mereka, memanfaatkan tenaga kerbau dan sapi untuk menggarap sawah mereka.
Dalam menghormati hewan, Allah bercerita dalam ayat-ayat-Nya tentang hewan yang masuk syurga nantinya. Misalnya burung Hud-hud dan Semutnya Nabi Sulaiman as, Ontanya Nabi Shaleh as, Anjingnya Ashabul Kahfi. Demikian halnya hadits Rasululullah SAW tentang hewan, dalam dua hadits yang bercerita manusia akan dimasukkan syurga dan disiksa karena hewan. Misalnya, hadits tentang masuknya syurga seorang PSK karena memberi minum Anjing yang sedang kehausan. Dan disiksanya seorang perempuan akibat mengikat Kucing dan tidak memberi makan serta  minum sampai mati. Dengan begitu, sungguh hewan merupakan makhluk yang juga harus dihormati keberadaanya. Dan tidak ada satupun makhluk Allah SWT yang diciptakan-Nya sia-sia, melainkan ada manfaatnya masing-masing. Hanya karena keterbatasan kemampuan manusia saja untuk mengetahui apa manfaat makhluk (hewan) ini diciptakan oleh Allah SWT. Satu sisi memang ada hewan-hewan yang merusak, namun sisi lain mereka adalah makanan hewan-hean yang lain. Misalnya ulat, nyamuk, hama wereng sering mengganggu manusia, namun mereka adalah makanan hewan-hewan yang lain, burung, katak dan lainnya.
Begitulah siklus hidup manusia, tidak terlepas dari empat unsur yang sangat penting dan saling ketergantungan. Nah manusia lah yang oleh Allah SWT diciptakan sempurna menjadi pemimpin, harus bisa memimpin dengan baik, melestarikan keberadaan mereka, menjaga dan merawat meraka sehingga bisa dinikmati panjang dari masa ke masa, dari generasi yang satu ke generasi yang lain.  Dan merupakan sebuah kewajiban kita untuk mengingatkan saudara-saudara kita, apabila kita lihat mereka akan merusak alam dan kelestariab bumi. Akan tetapi hendaknya kita memberi peringatan kepada mereka dengan cara-cara yang bijaksana, melalui musyawarah dan sesuai tuntunan-tuntunan Islam yang ada. Apalagi kita hidup di Negara huku, yang barang tentu sudah diatur segalanya oleh pemerintah yang ada.
Menjaga kelestarian alam, bukan kewajiban pemerintah atau tuan rumah dimana hewan, tumbuh-tumbuhan atau air itu berada, namun semua manusia adalah punya hak dan kewajiban yang sama untuk menjaga alam ini. Karena kembali ke fungsi kita terlahir dan tercipta oleh Allah SWT di bumi ini adalah sebagai pemimpin dari makhluk-makhluk yang lain. Kepemimpina  kita tentu tidak merusak fungsi ke dua manusia yakni sebagai seorang hamba (pengabdi). Oleh itu, hendaknya penghambaan kita totalitas, dalam mencari keridhaan-Nya, baik dari kepemimpinan kita maupun dari ibadah-ibadah yang lain. Mudah-mudahan kita bisa adil dalam memimpin bumi ini. Adil dalam artian, menempatkan sesuatu pada tempatnya, bergerak, bertindak sesuai fungsi dan tugas masing-masing. Apa yang dianggap manusia baik, maka Allah SWT juga tentu menganggapnya baik. Karena Allah SWT sangat senang dengan sesuatu yang indah. Oleh karenanya membuat alam ini indah adalah membuat Allah SWT senang kepada kita. Wallahua’lamubisshawab.
 
Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Mpunda Kemenag Kota Bima