Kamis, 17 November 2011

Instansi tidak Mewarnai Pribadi


 
Oleh : Musthafa Umar

Beberapa minggu ini, saya mungkin anda sudah membaca tentang korupsi di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bima. Anda mungkin akan mencibir, “lembaga agama ko’ korupsi”. Nah tulisan saya ini, mencoba mengurai ‘benang kusut’ kenapa bisa terjadi? Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sudah menggaung puluhan tahun lalu dari para tokoh-tokoh pro reformasi, namun ‘gong’nya baru ditabuh 15 tahun yang lalu. Saat penurunan Presiden Soeharto 1998 secara terang-terangan, para tokoh reformasi dan mahasiswa saat itu menjadikan isu sentral KKN dalam demo menuntut Soeharto turun. Dan Soeharto sendiri, 32 tahun menjadi Presiden, kalau boleh di ‘istibatkan´ maka korupsi, kolusi dan nepotisme itu sudah sekian lama ada.
Apa sich korupsi? Kamus Umum Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwodarminto mengartikan Korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya. Secara harfiah korupsi mempunyai arti kebusukan, keburukan, kebejatan, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata ucapan yang menghina dan memfitnah. Lain halnya dengan Erika Revida dari Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, menulis dalam Tesisnya, mengutip pernyataan Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatankekuatanformal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri.
Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Kembali Erika Revida mengutif tulisan Wertheim (dalam Lubis, 1970) menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah.
Nah seiring dengan bergulirnya reformasi, maka tata pemerintahan pun berubah. Undang-undang tentang Korupsi pun bermunculan dan dibuat, misalnya UU No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU no. 31 tahun 1999 tentang pemberantasa tindak pidana korupsi pada butir a dan b; Bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas, tidak hanya merugikan keuangan Negara tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak social dan ekonomi masyarakat secara luas sehingga tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa. Dan menyusul UU no. 30 tahun 2002 tentang KPK juga tentang PP no 71 tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran serta masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Inpres No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.
Seiring dengan itu pula, KPK terbentuk sebagai lembaga super body yang akan mengawal maju mundurnya pelaksanaan UU yang sudah dibuat. Itupun terus mendapat sorotan dan goyangan untuk di bubarkan oleh sekelompok orang-orang yang tidak suka dan ketakutan, kalau-kalau pada saatnya nanti adalah giliran dia. Dan kalau kita melihat usia UU itu tergolong masing muda, namun orang-orang yang membuat dan melaksanakan, sebagian masih ‘orde baru’ dan terus mempertahankan status quonya. Inilah orang-orang yang sedang kita hadapi, dan perlu lebih intens dalam mengontrolnya. Sampai-samapai perdebatan antara Prof. Dr. Mahfud MD dengan Dr. Jimly Asshidiqi tentang hukuman mati bagi para koruptor sudah mengemuka, ada yang mengusulkan dan ada yang menolak.
Lalu bagaimana dengan instansinya? Instansi tidak memandang agama atau luar agama. Karena pada dasarnya, korupsi terjadi adalah berangkat dari pribadi-pribadi sendiri, bukan lembaganya. Itulah sering kita sebut oknum pejabat si A dan si B. kalaupun kita tanyakan, apakah di instansi lain tidak terjadi korupsi? Atau mereka tidak beragama? Sama saja, mereka beragama dan instansi lain juga dirundung kasus-ksus yang sama. Kasus yang di hadapai Kementerian Agama Kabupaten Bima adalah bagi gunung es yang mencair, orang agama melanggar perintah agama, yakni korupsi. Hal ini tidak jauh beda dengan orang kerja di Kepolisian, atau Kejaksaan namun melanggar hukum. Atau orang kerja di Kementerian Kesehatan, namun merokok. Padahal mereka sudah tahu kalau merokok itu merusak kesehatan, namun kenapa mereka masih merokok?
Kiasan ini, sama dengan apa yang terjadi di Kementerian Agama. Bahwa korupsi bukan lembaganya, namun pribadinya. Sehingga judul opini saya, instansi tidak mewarnai pribadi. Nah kita tentu semua berharap bisa menjadi pribadi-pribadi yang sesuai dengan ‘baju’ kebesaran kita. apa jadinya kalau semua instansi tanpa bisa menjaga nama besar lembaga tempat mereka bernaung? Saya ingat waktu kita mahasiswa, para senior, para civitas akademika dan para dosen selalu mengingatkan untuk menjaga nama besar almamater. Saya kira sama dengan kita setelah menjadi pejabat, untuk menjaga jabatan yang kita emban. Bukankah dalam fungsi hadirnya manusia di muka bumi ini, adalah untuk menjalankan amanah-amanah Allah SWT yang diberikan kepada kita, untuk dikelola dengan baik, karena pada saatnya nanti, kita semua akan dimintai pertanggung jawaban atas pengembanan amanah yang kita lakukan.
Dengan harapan hasil survey Transparancy International Indonesia (TII) yang menempatkan Indonesia menjadi Negara paling korup No. 6 dari 133 negara Nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia saat ini 2,3 yang ternyata lebih rendah dari  Negara-negara tetangga seperti Vietnam, Philipina, Malaysia, Bangladesh dan Myanmar bisa berkurang pringkat. Dan  satu lagi catatan dari Prof. Soemitro (Alm), sebagaimana dikutip oleh media cetak beberapa tahun lalu, bahwa kebocoran keuangan Negara mencapai 30%. Disamping memang penyebab sementara karena manajemen yang kurang baik dan control yang kurang effektif dan effesien, mempengaruhi merebaknya tindak pidana korupsi ini. Na’udzubillahimindzaalik..

Penulis adalah Penyuluh Agama di KUA Kec. Mpunda Kemenag Kota Bima.

Seputar Reproduksi dan HIV / AIDS



Oleh : Musthofa Umar

Komisi Penanggulangan AIDS Nusa Tenggara Barat, memperkirakan pengidap HIV/AIDS di daerahnya sedikitnya mencapai 3.000 orang. Ini perkiraan dari penyebaran melalui 494 orang yang dinyatakan positif, sampai posisi Agustus 2011. Begitu Metronews menulis (12/11) bersamaan dengan Hari Kesehatan Nasional. Dan kemarin kalau kita melihat editorial media ini (16/11) secara husus menulis tentang HIV/AIDS yang terjadi di daerah kita, walaupun hari bebas HIV/AIDS sedunia masih setengah bulan lagi (1 Desember). Namun tidak ada salahnya kalau kita membahas hal ini, karena berkaitan erat dengan masalah kesehatan penduduk dunia hususnya Indonesia dan lebih husus lagi Nusa Tenggara Barat. Di samping juga, Kota Bima dalam memperingati Hari Kesehatan kemarin dalam sambutan Walikota, akan mencanangkan Kota Bima menjadi Kota Sehat. Tentunya yang dimaksud adalah sehat Jasmani dan Rohani, karena “dalam tubuh yang sehat terdapat akal yang sehat”.
Situs resmi Komisi Penanggulangan HIV dan AIDS, www.aidsindonesia.or.id, HIV merupakan singkatan dari “human immunodeficiency virus”. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.
Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai “infeksi oportunistik” karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang melemah. Sedangkan AIDS adalah alah singkatan dari ‘acquired immunodeficiency syndrome’ dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.
HIV dan AIDS menurut catatan Wikipedia, pertama kali mengemuka di Indonesia, diawali dengan penemuan kasus pertama pada tahun 1987 di Bali. Menjelang tahun 2000, terjadi percepatan pertambahan Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) dengan pesat, bahkan memasuki tahun 2000, terdapat lokasi-lokasi dimana penularan HIV sudah tinggi (concentrated level epidemic). Dan saat ini Indonesia menjadi salah satu Negara yang termasuk pada taraf epidemi terkonsentrasi, artinya Negara yang mempunyai tingkat prevalensi lebih dari 5 % dalam populasi resiko tinggi yaitu dari para penjaja seks, pengguna narkoba suntik dan hubungan seksual dari sesama jenis kelamin (homo seksual). Perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia sejak kasus pertama tahun 1987 hingga akhir Juni 2011 berkembang dengan sangat cepat. Dalam Laporan Kementerian Kesehatan RI terdapat 26.483 kasus yang tersebar di 300 Kabupaten/Kota yang melapor dan 33 Provinsi. Angka ini tergolong luar biasa, karena kalau kita lihat pada tahun 2010 hanya terdapat 4. 158 kasus saja. Dari kasus ini sebanyak 54,8 %  ditularkan melalui Hetroseksual. Dan sebanyak 46,4 % dan umur 30-39 tahun sebanyak 31,5 %. dilakukan dalam rentan usia 20-29 tahun (remaja).
Untuk NTB, angka 3.000 menurut Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H Soeharmanto, adalah yang terdata dan diakuinya masih banyak yang belum terdata. Dan ini tergolong fantastis! Ini fakta bukan sebuah fenomena lagi, di daerah yang terkenal dengan sebutan 1.000 masjid. Ini PR (Pekerjaan Rumah) bagi kita semua, terutama pemuka-pemuka agama dan tokoh yang berperan dalam masalah ‘moral’ masyarakat. Virus HIV dan AIDS lebih banyak ditularkan dari hal-hal yang kurang baik menurut kacamata moral agama. Misalnya free sex (sek bebas), penggunaan jarum suntik Narkoba dan sex sesama jenis  (homo dan lesbian).   
Dan masih dari catatan Menteri Kesehatan, bahwa menurut hasil penelitian perempuan dan remaja putri ternyata lebih rentan tertular HIV. Hasil studi menunjukkan bahwa kemungkinan perempuan dan remaja putri tertular HIV 2,5 kali dibandingkan laki-laki dan remaja putra (UNAIDS 2004). UNAIDS melaporkan bahwa 67% kasus baru HIV dan AIDS di negara berkembang ada pada kalangan usia muda (15 – 24 tahun). Dari jumlah tersebut, 64% adalah perempuan dan remaja putri berusia 15 – 24 tahun. Selain itu, masih ada stigma di masyarakat yang menganggap bahwa HIV dan AIDS hanya dialami perempuan penjaja seks atau perempuan Penjaja Seks Komersial (PSK) adalah sumber penularan HIV, ternyata tidak benar karena saat ini perempuan yang tidak melakukan perilaku beresiko telah ada yang terinfeksi HIV dari pasangan tetapnya (suaminya).
Jadi stigma selama ini yang berkembang terpatahkan dengan hasil study ini, bahwa PSK bukanlah satu-satunya penyebab utama tertularnya virus HIV dan AIDS, akan tetapi orang yang melakukan free sex (sek bebas) dengan gonta-ganti pasangan adalah beresiko juga. Dan melihat gejala-gejalanya, dari mana asal mula virus HIV dan AIDS ini berkembang, tentu kita kembali kepada pathologi social remaja kita. pergaualan yang bebas di luar, dan kurangnya pengetahuan mereka tentang agama, adalah pemicu awal untuk tertular dan memba virus HIV dan AIDS di masyarakat.
Karena remaja merupakan pihak yang rentan mengalami permasalahan terkait dengan kesehatan reproduksi dan seksual, sehingga perlu mendapatkan perhatian, kata Kepala Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada Muhadjir Darwin. "Permasalahan terkait kesehatan reproduksi dan seksual yang mengancam remaja antara lain kehamilan tidak dikehendaki, aborsi, kekerasan, minuman keras, napza, dan penyakit menular seksual seperti HIV dan AIDS," Namun, kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak secara riil dan mengakar mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi remaja. Oleh karena itu, berbagai permasalahan yang dihadapi remaja itu perlu dicarikan solusi serta ada pengakuan hak dan kesempatan yang sama pada mereka.  Seiring dengan perkembangan masyarakat, nilai dan norma juga ikut berubah, sehingga peran remaja untuk mendorong adanya perubahan maupun mengakomodasi kepentingan mereka semakin diperlukan. Kita berharap para remaja terutama di NTB dan Kota Bima bisa memahami berbagai persoalan tentang kesehatan reproduksi dan seksual maupun pandangan konservatif terkait hal itu, agar pencegahan dini HIV dan AIDS terutama bisa teratasi.
Hal senada juga menjadi harapan Komisi Penanggulanagan AIDS NTB. Ini terlihat dalam pernyataan Soeharmanto bahwa angka estimasi HIV dan AIDS di NTB sebanyak 3.000 itu diperlukan untuk kepentingan penanganan wabah penyakit mematikan itu, terutama dalam mengimplementasikan program penyadaran terhadap para pengidap, agar mau berobat meskipun pengobatannya terus berlanjut sepanjang hidup. Selain itu, angka estimasi itu juga perlu diketahui masyarakat, terutama yang dikategorikan rawan tertular seperti remaja, agar mereka lebih mampu membendung dirinya dari kemungkinan tertular.
Virus HIV dan AIDS adalah wabah penyakit mematikan yang sampai saat ini belum ada obat yang pas untuk menyembuhkan. Dan kita yakini sebagai seorang yang beriman kepada Allah SWT bahwa ini adalah bagian dari musibah dan bencana yang diturunkan Allah SWT atas pelanggaran perintah-perintah-Nya. Karena dalam surat Al-Mukminun pada ayat 5 sampai dengan 7 dengan gambling kita di peringatkan-Nya, “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,   kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.  Barangsiapa mencari yang di balik itu (zina, homo dan lesbi dan sebagainya). Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
Atas dasar inilah, maka Allah SWT menegur kita semua dengan diturunkannya wabah atau virus HIV dan AIDS karena semua adalah berasal dan yang berkehendak atas seusatu di muka bumi ini hanyalah Allah SWT. Akankah kita tidak membuka mata kita? berapa banyak korban lagi yang akan berjatuhan di negeri ini, dan sekali lagi obat yang ‘mujarab’ sampai saat ini belum ada penemuan, namun hanya pencegahan mungkin itu yang bisa kita lakukan sementara, mencegah dari hal-hal yang akan mengarah kepada tertularnya virus ini. misalnya, menjaga kesetiaan pada pasangan yang sah dengan tidak melakukan free sex (sek bebas) dengan gonta ganti pasangan, tidak melegalkan PSK menjajakan dirinya dengan bebas, Narkoba, Shabu dan sebagainya dengan melalui jarum suntik. Termasuk pencegahan moral dari guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, instansi terkait dan lebih-lebih orang tua, agar lebih intens mengawasi dan mengontrol pergaulan putra-putri mereka.

Penulis adalah Penyuluh Agama di KUA Mpunda Kemenag Kota Bima.

Rabu, 09 November 2011

Idul Adha antara Cinta Kasih dan Kepahlawanan


Oleh : Musthofa Umar, S.Ag., M.Pd.I.

Alhamdulillah Idul Adha kali ini kita bersama-sama, tidak seperti Idul Fitri kemarin. Dan memang bersama-sama itu indah dan mudah-mudahan selanjutnya kita terus bersama. Bukan hanya itu saja kebersamaan kali ini, Idul Adha bersamaan juga dengan hari Pahlawan 10 November 2011. Berangkat dari itu, saya mencoba merangkainya dalam sebuah tulisan opini dimedia ini. mungkin kalau yang secara spesifik membahas Idul Adha atau Idul Qurban sudah ada, termasuk yang membahas mengenai kepahlawanan. Namun saya mencoba melihat sisi lain makna Idul Adha dan nilai kepahlawanan. Setiap kita membahas Idul Adha atau orang sering menyebut Idul Qurban, yang banyak dibicarakan pasti tentang peristiwa Nabi Ibrahim As dan Nabi Isma’il As serta menyinggung sedikit pelaksanaan Ibadah Hajji yang sedang berlangsung saat ini di Mekkah.
Sebelum saya membahas Pahlawan, alangkah baiknya kalau saya mengingatkan kita semua ke Idul Adha terlebih dahulu, agar tulisan ini terangkai sempurna. Idul Adha adalah hari raya yang kita lakukan di bulan Dzulhijjah, artinya dua bulan lebih 10 hari setelah Idul Fitri. Dalam Idul Adha, kita akan berbicara mengenai ‘Napak Tilas’ Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar, Siti Maisarah dan juga Nabi Adam serta Siti Hawa As. Berangkat dari sinilah, Idul Adha dikenal dengan nama lain Idul Qurban. Tidak hanya itu, dalam Idul Adha ada Ibadah lain yakni Hajji yang juga mengambil ‘nilai-nilai’ Nabi Ibrahim as.  Apapun bentuk ibadah yang dilakukan jama’ah hajji, memang terkesan ‘olah raga’ (kegiatan fisik), namun itulah bentuk totalitas penghambaan seorang abdi (hamba) kepada Tuhannya (roobby) yakni Allah SWT, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim As dan Nabi Isma’il As.
Lihat saja, dalam haji selain tawaf (menggelilingi ka’bah sebanyak 7 kali) juga ada Sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa sebanyak 7 kali). Selain Sa’i ada Melontar Jumrah dan inti Haji ada Wukuf di Padang Arafah. Sa’i adalah mengenang kisah Siti Hajar yang  mencarikan air untuk Nabi Ismail As saat itu. Melontar Jumrah adalah kisah Nabi Ibrahim As yang akan menyembelih putranya sendiri Nabi Isma’il As namun di haling-halangi oleh Syaitan dan oleh beliau berdua, Syaitan itu dilemparnya. Terakhir peristiwa Wukuf adalah bertemunya Nabi Adam As dan Siti Hawa As setelah 100 tahun dalam sebuah riwayat, mereka saling mencari setelah di turunkan ke Bumi oleh Allah SWT dari Syurga karena sebuah pelanggaran.
Lalu bagaimana dengan Pahlawan?  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan agama, masyarakat bangsa atau umat manusia. Lain halnya dalam bahasa Inggris, pahlawan disebut ‘hero’ yang diberi arti satu sosok legendaris dalam mitologi yang dikaruniai kekuatan yang luar biasa, keberanian dan kemampuan, serta diakui sebagai keturunan dewa. Pahlawan adalah sosok yang selalu membela kebenaran dan membela yang lemah.
Kategori pahlawan pun ada banyak, tergantung dengan prestasi yang disumbangkannya, seperti pahlawan kemanusiaan, pahlawan nasional, pahlawan perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan proklamasi, pahlawan iman, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan kesiangan, dan sebagainya. Dari kategori pahlawan, mungkin saya menggaris bawahi Pahlawan Iman. Nabi Ibrahim As, boleh kita katakana adalah sosok pahlawan iman begitu halnya dengan Nabi Isma’il As. Apa yang dibangun beliau (Ka’bah) menjadi panutan kita semua dalam menyembah Allah SWT. Belum lagi spirit-spirit yang lain, misalkan tentang khitan beliau yang sudah berusia 80 tahun (dalam riwayat hadits Bukhari), keberanian beliau dilempar Raja Namrud ke kobaran api, keberanian beliau menghancurkan berhala-berhala sesembahan ayahnya sendiri, ketabahan beliau menunggu putra hingga usia 60 tahun dan pengamdian beliau yang tanpa ‘protes’ kepada Allah SWT. Atas iman dan totalitas pengabdian beliau ini, Allah SWT dalam surat an-Nisa’ ayat 125 menjadikan Nabi Ibrahim As sebagai khalilullah (kesayangan Allah SWT).
Kepahlawanan Nabi Ibrahim As dalam merombak iman, patut kita ikuti. Totalitas dalam pengabbdian beliau sungguh luar biasa. Saat beliau merindukan seorang putra, namun begitu lahir, Allah SWT meminta beliau menaruhnya di tempat yang jauh dan mengunjunginya kembali saat Nabi Ismai’l As akan di sembelih (al-Qur’an surat as-Shafaat ayat 102 menuliskan umur Nabi Ismai’il As kala itu, adalah umur sanggup, bisa diartikan mumayyiz). Dan tidak hanya sampai di situ saja, Nabi Ibrahim As di uji kembali oleh Allah SWT melalui mimpi, beliau di wahyukan untuk menyembelih putranya sendiri. Inilah bukti kuatnya cinta Nabi Ibrahim As kepada Allah SWT yang mampu mengalahkan kuatnya cinta beliau kepada keluarganya. Iman beliau sungguh luar biasa kepada Allah SWT, hal inilah yang belum kita bisa tauladani. Bagaimana tidak, kalau kita lihat di sekililing kita, begitu panggilan Allah SWT datang (adzan) terkadang kita masih mempunyai alasan untuk melaksanakan ibadah dengan segera. Namun tidak dengan Nabi Ibrahim As, begitu wahyu/printah Allah SWT diterimanya, begitu juga dilaksanakannya, walaupun berat.
Nah Idul Adha atau Idul Qurban yang asalnya sendiri kalau kita kait-kaitkan ke dalam Bahasa Indonesia, adalah kata serapan dari Bahasa Arab dengan satu makna Pengurbanan. Apapun akan diberikan untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan. Qurban atau pengurbanan, memang akan melihat angka nominal. Harga sapid an kambing yang akan di Qurbankan atau jumlah uang yang keluar untuk naik hajji. Semua ini tidak ada artinya bila debandingkan dengan nikmat iman yang ada, begitu halnya dengan Nabi Ibrahim As, jangankan harta, anakpun akan diberikan kepada Allah SWT jika itu yang akan diminta, untuk pembuktian iman beliau.
Apa kaitannya dengan cinta kasih? Cinta Nabi Adm As dan Siti Hawa As sungguh tiada tara saat ini. Bagaimana tidak, 100 tahun masa penantian dan masa saling mencari baru mereka bertemu di Padang Arafah. Tempat pertemuan beliau ini, ditandai dengan sebuah tugu di atas Jabal Rahmah (gunung kasih sayang). Luapan rindu kasih saat itu, tidak akan bisa terukir oleh kata-kata, dan pertemuan beliau berdua, diabadikan Allah SWT dalam ritual pelaksanaan Ibadah Haji. Dari sekian rukun haji, maka Wukuf adalah merupakan inti ibadah haji. Akan tetapi banyak orang kita yang justru melupakan peristiwa bersejarah dalam islam ini, malahan menggantinya dengan 14 Pebruari (valentine Days) sebagai hari kasih sayang. Di rayakan dengan hura-hura, bersama ‘kekasih/pacar’ yang belum syah secara hukum (muhrim) dan mengikuti agama lain. Islam mengajarkan santun, tanggal 9 Dzulhijjah para jamaah haji berkumpul, berdiam dan berdzikir memuji kebesaran Allah SWT di Padang Arafah, sedangkan kita di tanah air sunnah untuk puasa yang pahalanya bisa menghapus dosa tahun kemarin dan tahun ini.
Cinta kasih yang lain adalah, pengorbanan Siti Hajar As dan Nabi Ibrahim As dalam penantian seorang putra. Allah SWT menguji beliau hingga umur 60 tahun. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, ketulusan cinta Nabi Ibrahim As yang selalu mendampingi istri beliau dengan setia. Mungkin kalau ukuran kita, apabila istri kita tidak bisa melahirkan dalam rentan waktu yang sekian lama, akankah kita tidak berkeinginan menikah lagi? Atau selingkuh?. Dan setelah Allah SWT mengabulkan do’a beliau, lahirlah Nabi Ismai’l As. Namun tidak sampai disana ujian yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim As. Saat Nabi Isma’il As masih merah, Allah SWT memerintahkan beliau untuk menaruhnya ditempat jauh, di sebuah lembah yang tanpa penghuni yakni Ka’bah (Masjidil Haram) saat ini. Cinta Nabi Ibrahim As kepada Istri dan Putranya terkalahkan oleh cintanya kepada Allah SWT.
Siti Hajar As dan Nabi Isma’il As yang ditinggal Nabi Ibrahim As mulai di uji Allah SWT. Ujian yang diberikan adalah, bagaimana Nabi Isma’il As kehausan saat itu, walaupun Siti Hajar mencoba menyusui namun Nabi Ismai’l kecil enggan menyusu dan terus menangis. Kepanikan akan keselamatan bayinya, juga atas dasar cinta kasih Siti Hajar As, membuat beliau berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Bukit Marwa sebanyak 7 kali (sa’i), namun justru Allah SWT menunjukkan Mukjizat-Nya kepada Nabi Isma’il As yakni dengan hentakan tumit mungilnya saat itu, menyemburkan air (zam-zam) dan sampai saat ini masih kita bisa nikmati. Inilah cinta kasih seorang ibu kepada anaknya yang sangat tulus dan kepahlawanan Siti Hajar As dalam berjuang demi buah hatinya.
Dari itu hendaknya Idul Adha / Idul Qurban yang kita telah lakukan kemarin, benar-benar membekas kepada hati kita. eksisnya kita melakukan tiap tahun tentu ada makna peningkatan atau esensi dari pelaksanaan ibadah yang kita lakukan. Begitu halnya dengan Ibadah Haji dan Hewan Kurban yang kita berikan kepada yang berhak menerimanya, adalah bentuk cinta dan kasih kita kepada Allah SWT mengalahkan cinta dan kasih kita kepada harta, uang, kekayaan, ego, bahkan istri dan anak seperti yang dicontohkan Nabi Adam As, Siti Hawa As, Nabi Ibrahim As dan keluarga beliau. Amin.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Kec. Mpunda Kemenag Kota Bima.